Tak Berkategori  

Tiga Patung Jenderal Diorama Peristiwa G30S PKI Diserahkan Kepada Yang Membuat

FaktaNews.-(Jakarta)– “Disimpulkan bahwa Kostrad tidak pernah membongkar atau menghilangkan patung sejarah Museum Dharma Bhakti di Markas Kostrad,”terang Kepala Penerangan (Kapen) Kostrad, Kolonel Inf Haryantana pada keterangan pers, Senin (27/9/21).

Ini disampaikan untuk mengklarifikasi ramainya terkait hilangnya Patung Mayor Jenderal Soeharto, Letnan Jenderal Sarwo Edhie, dan Jenderal AH Nasution yang Hilang.

Diketahui sebelumnya, diorama tiga Jenderal itu menggambarkan suasana di pagi hari pada 1 Oktober 1965, beberapa jam setelah enam Jenderal dan seorang Perwira muda TNI AD diculik PKI yang ada di tubuh pasukan kawal pribadi presiden, Cakrabirawa.

Dalam peristiwa G30S enam jenderal dan satu perwira TNI-AD itu yakni, Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman,Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan, serta Lettu Pierre Andreas Tendean di bunuh dan dimasukkan dalam sumur tua (lubang buaya).

Lettu Pierre Tendean merupakan ajudan Jenderal Abdul Haris (AH) Nasution korban salah sasaran.

Saat itu pada 1 Oktober 1965, dini hari, Pierre Tendean disangka AH Nasution. AH Nasution salah satu jenderal menjadi target untuk diculik dan dibunuh.

Diorama itu juga menggambarkan saat-saat kritis atau setelah beberapa jam penculikan enam Jenderal TNI AD serta  rencana menyelamatkan negara dari pengkhianatan PKI.

Dalam Diorama itu menggambarkan peran utama Panglima Angkatan Darat, Pangkostrad, dan Resimen Parako (saat ini Kopassus).

Baca juga:  Peran Kampung Mandar Dalam Laju Lalu Lalang Kehidupan Pesisir

Museum itu berada di bekas ruang kerja Panglima Kostrad (Pangkostrad) Mayjen Soeharto ketika peristiwa G30S/PKI terjadi.

Adegan di musium itu digambarkan saat Mayjen Soeharto menerima laporan dari Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.

Dalam diorama itu, Patung Soeharto dan Sarwo Edhie berhadapan.

Patung Mayjen Soeharto berpakaian loreng khas Kostrad sedang berdiri menghadap ke arah patung Letjen Sarwo Edhie, sambil mengacungkan tangan.

Sedangkan patung Sarwo Edhie dibuat dengan pose sikap sempurna dan tangan kiri memegang tongkat komando seolah sedang memakai seragam dan atribut lengkap Kopassus.

Di ruangan yang sama, patung AH Nasution berpose duduk di sofa merah dan kaki kiri diletakkan di atas meja kayu dengan permukaan kaca, tangan kiri patung AH Nasution memegang tongkat kayu panjang menggambarkan kondisi AH Nasution usai ditembak oleh pihak yang hendak menculiknya.

Sementara itu, Pemberitaan hilangnya Patung Mayor Jenderal Soeharto, Letnan Jenderal Sarwo Edhie, dan Jenderal AH Nasution saat peristiwa G30S PKI diungkap dalam diskusi bertajuk ‘TNI Vs PKI’ yang digelar Minggu (26/9/21).

Dalam diskusi dengan nara sumber mantan Panglima TNI Jenderal (Purnawirawan) Gatot Nurmantyo itu, sempat diputar sebuah klip video pendek memperlihatkan Museum Dharma Bhakti di Markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.

Atas peritiwa hilangnya musium patung tiga jenderal (Soeharto, Sarwo Edhie, dan AH Nasution) yang menggambarkan situasi saat G30S PKI itu, Gatot menduga adanya penyusupan kembali pendukung PKI ke tubuh TNI.

Baca juga:  Raihan Medali Indonesia Di Olimpiade Tokyo 2020 Lebih Baik Dari Olimpiade 2016 Lalu

“Bukti nyata jurang kehancuran itu adalah persis di depan mata, baru saja terjadi adalah Museum Kostrad, betapa diorama yang ada di Makostrad, dalam Makostrad ada bangunan, bangunan itu adalah kantor tempatnya Pak Harto (Soeharto) dulu, di situ direncanakan gimana mengatasi pemberontakan G30SPKI di mana Pak Harto sedang memberikan petunjuk ke Pak Sarwo Edhie sebagai Komandan Resimen Parako dibantu oleh KKO,” ungkap Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo Minggu (26/9) kemarin.

Sementara itu, klarifikasi Kepala Penerangan (Kapen) Kostrad, Kolonel Inf Haryantana tiga patung itu telah diserahkan kepada Letjen TNI Azmyn Yusri Nasution selaku pembuat patung-patung tersebut.

Azmyn, menurut Haryantana, meminta langsung kepada Pangkostrad Letnan Jenderal Dudung Abdurrachman untuk dapat menyerahkan patung-patung tersebut kepadanya sebagai pembuat.

“Pada tanggal 30 Agustus 2021 Pak AY (Azmyn Yusri) Nasution meminta kepada Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdurrahman untuk diserahkan kembali pada Letjen TNI Purn AY (Azmyn Yusri) Nasution,”ungkap Haryantana.(*Int/tec/dec/Anm/fak).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *