Prostitusi Online ABG Dirumah Kos Tak Disadari Warga

  • Bagikan

Faktanews.co.id.–Rumah kos di Lingkungan Kuwung, Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto sepi penghuni.

Info digerebek Ditreskrimsus Polda Jatim dan police line halaman rumah berwarna hijau itu membuat  baru sedikit mendengar bila selama ini pemilik kos Olan Sumaryono, berusia 41 tahun untuk tempat kos bulanan dan diperuntukkan pasangan suami istri atau berumah tangga ternyata belakangan digunakan ajang prostitusi online pelajar SMP hingga SMA di Mojokerto.

“(Rumah milik Olan) Untuk kos saya memang tahu. terakhir laporan di awal tahun 2020 pemiliknya (Olan) bilang ada tiga pasangan suami istri. Setelah itu sudah tidak ada laporan sama sekali hingga sampai saat ini. Ada satu tahunan,” kata Nur Sucahyo Ketua RT 02/RW 3 setempat dikutip media, Senen (1/2/21) sore.

Terkait penggerebekan dan penangkapan, dirinya selaku Ketua RT juga tidak mengetahui pasti rumah kos jadi tempat prostitusi yang infonya menyediakan atau tempat wanita-wanita muda jual diri yang infonya  bertarif 200 hingga 1 juta lebih tersebut.

“Orang sini tau (penggerebekan dan penangkapan) Infonya polisi datang dua kali. Jumat itu anak-anak gitu yang dibawa. Sabtu Pak Olan (pemilik kos) yang ditangkap terus dipasang garis (police line) itu,” terangnya.

Nur mengaku, tidak mengetahui bila ternyata rumah kos itu belakangan jadi tempat prostitusi terselubung untuk anak seusia SMA.

Nur hanya sebatas mengenal pemilik kos (Olan), karena Olan merupakan asli warga setempat yang selama ini dikenal tertutup kurang berbaur dengan warga.

Baca juga:  Bupati Disanksi Tak Terima Gaji, Warga Jember Cukur Gundul

Sejak jadi rumah kos-kosan itu setelah  kedua orang tua Olan meninggal ptahun 2018 lalu, selama ini tak ada laporan keanehan aktivitas di rumah yang terdiri dari tiga kamar tersebut.

Warga sekitar lokasi rumah kos berpagar besi warna hitam tersebut juga terbiasa melihat lalu lalang orang baru karena disekitar terdapat tiga tempat kos lainnya dengan berbagai tempat.

“Disekitar sini memang ada empat rumah kos, sehingga saya tidak mungkin memantau keluar masuknya orang setiap hari,” ucapnya.

Sejak dijadikan rumah kos-kosan itu pasca meninggalnya kedua orang tua pemilik kos tahun 2018 lalu, hingga kini tak ada laporan dari warga sekitar terkait adanya keanehan aktivitas di rumah yang terdiri dari tiga kamar tersebut.

“Saya sendiri tidak tau kalau rumah yang sejak orang tuanya meninggal itu digunakan untuk kos-kosan, tapi ternyata juga dijadikan tempat seperti itu (prostitusi),” tandasnya.

Sementara, salah satu warga yang rumahnya berada persis di depan rumah tersangka OS mengaku jika saat penggerebekkan ada empat cewek dan dua laki-laki di lokasi kejadian.

Menurut dia, saat petugas melakukan pengerebekan warga banyak yang tidak mengira jika rumah tersebut sebagai sarang prostitusi online anak sekolah.

“Memang sudah lama dijadikan rumah kos sejak orang tuanya meninggal. Tapi, kalau soal rumah itu sebagai ajang prostitusi online, warga, bahkan saya sendiri kaget, sebab dalam sehari hari ya biasa biasa saja,” jelasnya.

Baca juga:  Pembahasan Batas Wilayah Sudah Final, Bondowoso dan Banyuwangi Bisa Bersama Mendorong Kemajuan Wisata Kawah Ijen

Antok mengakui, jika sebelum adanya penggerebekan, ia sering mengetahui banyak laki-laki maupun perempuan yang masih belia keluar masuk rumah kos tersebut. Bahkan, dirinya pernah mengetahui anak perempuan yang masih mengenakan seragam SMA masuk ke dalamnya.

“Tapi ya biasa-biasa saja, soalnya setiap kali ada orang yang masuk pintu rumah itu selalu langsung ditutup rapat,” pungkasnya. (mop/hay).

  • Bagikan