Post Power Syndrome Rentan Serang Mental Manula

Oleh Tri Permata Sari

Faktanews.co.id | Salah satu masalah yang cukup serius Ketika orang pensiun yakni mengalami salah satu masalah kejiwaan yakni post power syndrome. Syndrome yang satu ini muncul saat ada seseorang yang turun dari jabatannya namun diikuti juga dengan penurunan harga diri. Hal ini disebakan karena dia merasa sudah tidak memiliki power atau kekuasaan. Orang yang memiliki syndrome ini cenderung mudaha tersinggung.

Secara istilah power memiliki arti kekuatan atau kekuasaan, sedangkan kata “Post Power Syndrome” dimaksudkan sebagai sesesorang yang awalnya memiliki banyak aktifitas dan kekuasaan lalu mendadak hilang. Kondisi ini akan menyebabkan seseorang merasa tidak nyaman. Jadi, singkatnya orang yang mengalami post power syndrome merupakan orang-orang yang belum siap dengan berbagai perubahan. Pada konteks ini, kehilangan yang dimaksud bisa berupa, kehilangan aktifitas, kekuasaan, jabatan, harta, dll. 

Banyak orang yang menyambut pensiun dengan persepsi yang keliru. Persepsi ini timbul karena tidak ada persiapan untuk menghadapi masa pensiun. Minimnya persiapan sehingga membuat Sebagian besar di antaranya mengalami post power syndrome yang berakibat pada tidak bisa berpikir realistis, merasa tidak berharga, mudah tersinggung, dll. (Suadirman, 2001)

Sindrom ini menyerang berbagai lini lapisan masyarakat, utamanya mereka yang memiliki power lebih lalu hilang secara tiba-tiba. Syndrom ini terjadi pada siapa saja, mulai dari artis tenar yang tiba-tiba redup, pejabat yang tiba-tiba dipecat, atau bahkan pegawai yang tiba-tiba kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Adapun pribadi yang paling rentan mengalami post power syndrome yakni orang yang memiliki kebanggan pada jabatan yang ia duduki, orang yang senang mengatur, serta orang yang perintahnya selalu dituruti oleh orang lain. 

Baca juga:  Ridwan Kamil : Pelaku Pungli Biaya Pemakaman Covid Dipecat dan Diperiksa Polisi

Orang yang mengidap gejala post power syndrome merupakan ciri-ciri bahwa orang tersebut tidak berhasil dalam beradaptasi dengan perubahan baru dalam fase hidupnya. 

Walaupun syndrome ini tidak tergolong dalam penyakit kejiwaan yang cukup serius, namaun perlu segera mendapat penanganan. Sebab jika dibiarkan begitu saja maka akan bisa memicu gangguan-gangguan psikologis yang lain, bahkan sampai mengganggu kesehatan seperti hipertensi atau darah tinggi pada kemudian hari.

Selain itu kita perlu mengubah persepsi dengan cara menanamkan di dalam hati kita masing-masing bahwa setiap manusia ada masanya. Jika pun masa kita harus berakhir, jabatan dan kedudukan harus ditinggalkan itu merupakan proses alamiah manusia. Setiap manusia pasti akan menghadapinta. Dengan penerimaan dari dalam hati maka hati kita pun akan tenang.[FN]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.