Mengintip Tradisi Kebo-Keboan Desa Watu Kebo

  • Bagikan

Faktanews.co.id.–Tradisi Kebo-keboan Watukebo satu dari beberapa rangkaian ritual “Bersih Deso ” kembali dilakukan, Minggu,(23/5/21).

Di Banyuwangi kebo-keboan menjadi tradisi di  Desa Watukebo, Alasmalang dan Desa Aliyan.

Tradisi ini biasa dilakukan warga desa setempat pada hari Minggu ke dua di Bulan Syawal.

Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan  rasa syukur kepada Sang Maha Pencipta agar desa diberikan keselamatan dari marabahaya dan panen padi melimpah.

Ini terkait masa lalu hingga kini mayoritas warga Desa bekerja sebagai petani dan punya juga selep dan pabrik padi yang besar.

Syahrin (77) Tetua Adat Desa Watukebo memgatakan, tradisi ini merupakan adat istiadat yang sudah turun menurun yang harus dilestatikan.

“Tradisi ini adalah Weluri adat dari nenek moyang kita, jadi setiap tahunnya selalu dilakukan, jika tidak dilakukan maka desa akan terkena pagebluk wabah, hal ini dulunya sudah pernah kejadian terlambat 2 hari saja 5 orang desa meninggal secara beruntun dan hampir seluruh masyarakat desa terkena wabah penyakit yang berujung kematian,” ungkap Syahrin, Minggu,(23/05/2021).

Syahrin menjelaskan tradisi kebo-keboan Watukebo memiliki nilai luhur yang tinggi, karena dalam setiap ritualnya terdapat simbol-simbol yang penuh makna diwariskan leluhur desa.

seperti membenturkan antar kelapa yang serabutnya dihilangkan hingga pecah, tebar winih pari atau bibit padi, gitik-gitikan atau pecut-pecutan serta visualisasi membajak sawah menggunakan kerbau (divisualkan kebo-keboan) berjumlah 2 orang dan 1 orang si pembajak.

Baca juga:  Durian Songgon Sepi Karena Cuaca Ekstrem

Tradisi kebo-keboan watukebo menurutnya, tidak terlepas dari asal usul Desa Watukebo yang menurut cerita leluhur setempat lamaran dari Majapahit menuju ke Bali.

Dalam ceritanya, Putri dari Bali meminta persyaratan 44 ekor kerbau lembu.

Saat akan melanjutkan perjalanan terdapat salah satu kerbau yang  tertidur pulas dan susah dibangunkan oleh Buyut Tiki Siem yang mengembala seserahan dari kerajaan tersebut.

Karena kerbau tersebut membandel, akhirnya Buyut Tiki Siem mengutuk menjadi batu. Batu ini ada SDN 1 Watukebo sekarang.

“Tradisi ini memang meminta keselamatan dan dijauhkan dari marabahaya, setiap tahun acaranya dilakukan swadaya masyarakat,” ucap Suripno (54) Tokoh Masyarakat Watukebo.

Tradisi kebo-keboan ini dilaksanakan setiap 12 hari seusai hari Raya Idul Fitri. Sedangkan Hari ke 11 dilakukan prosesi Ider Bumi mengelilingi desa setelah Sholat Magrib.

Disetiap sudut desa dikumandangankan Adzan dan sambil mengelilingi desa membaca shalawat, kemudian dilanjutkan khataman Alquran di Balai Desa Watukebo yang bertujuan untuk meminta keselamatan desa dari sang pencipta.

Keesokannya di Balai Desa juga dilangsungkan Asroqalan dan dilanjutkan prosesi ritual kebo-keboan Watukebo.

Acara puncaknya, dibeberapa makam leluhur yang dikeramatkan yaitu Makam Buyut Rencek, Makam Buyut Drasit dan peninggalan Batu Kerbau yang dipercaya masyarakat watukebo sebagai saksi cikal bakal desa dilakukan makan bersama dengan ancak (tempat makan dari pelepah daun pisang) yang sebelumnya dibacakan doa dan diberikan kemenyan oleh sesepuh Adat Watukebo.

Baca juga:  Mainkan Dana Bantuan "Kanggo Riko" Antar Kades Tegalharjo Diborgol Ke Penjara

Suripno seorang pelestari tradisi Watukebo kepada faktanews.co.id.  berharap jika acara ini kedepannya lebih besar dan tetap terjaga.

“Perlu juga kepedulian dari pemerintah setempat untuk lebih mengenalkan tradisi kebo-keboan Watukebo di masyarakat luas, termasuk peran Dewan Kesenian Blambangan(DKB) maupun dinas terkait,”katanya didampingi Dewi Sri, Dhimas aktifis seni yang dikenal Banyuwangi Photografi Club (BPC).(Ag/ti/kin).

Penulis: Aguk & YetiEditor: Makin SH.
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *