Meneguhkan Identitas Osing “Dalam Fenomena Banyuwangi Kekinian”

  • Bagikan

Faktanews.co.id.– Selain bahasa, peneguhan identitas Osing menyentuh aspek kultural lainnya. Dari seni, tradisi, ritual, hingga pakaian adat.

Hal ini bukan tanpa alasan. Masyarakat Osing memiliki kekayaan seni budaya dan tradisi.

“Mereka benar-benar memberdayakan bahasa Using dalam kehidupan sehari-hari. Banyak sekali karya seni baik berupa puisi, mantra, macapat, atau lagu yang ditulis dengan menggunakan bahasa Osing sehingga menimbulkan kesan tertentu yang sangat kuat.

Karya seni ini semakin mempertebal rasa cinta mereka terhadap identitas kedaerahannya,” tulis Arif Izzak dkk dalam Pesona Jawa Timur.

Pada 1970-an, banyak seniman Banyuwangi mulai berani menciptakan dan merekam lagu-lagu berbahasa Osing.

Sejumlah kesenian tradisional seperti gandrung pun digiatkan dan direvitalisasi tulis Historia

Stigma kiri yang pernah menerpa kesenian Banyuwangi perlahan luntur.

Identitas Osing menemukan momentumnya ketika Samsul Hadi, bupati Banyuwangi (2000-2005) dengan mengeluarkan kebijakan Banyuwangi Jenggirat Tangi alias “kebangkitan Banyuwangi”. Dari istilahnya saja ini bernuansa Osing-sentris.

Salah satunya diwujudkan dengan penetapan gandrung, kesenian khas Osing, sebagai maskot pariwisata Banyuwangi.

Maka dimulailah secara masif pembangunan patung gandrung di sudut-sudut kota dan berbagai titik utama di Banyuwangi.

Hal itu berlanjut pada era Bupati Abdullah Azwar Anas yang menjadikan kesenian gandrung sebagai proyek komodifikasi budaya dalam bentuk pentas kolosal bertajuk Gandrung Sewu.

Anas juga mengubah citra Banyuwangi menjadi daerah destinasi wisata berjuluk The Sunrise of Java.

Baca juga:  SMPN 3 Rogojampi dan PGRI Manfaatkan Bersama Gedung Eks P&K 

Hal ini didukung oleh pesona bentang alam, seni, dan tradisi lokal di wilayah ini.

Keindahan alam dan budaya juga dihadirkan dalam event tahunan Banyuwangi Festival sejak 2012.

Pada event itu banyak ritual dan kesenian Osing dihadirkan.

Identitas Osing makin kental dengan banyaknya pembangunan, dari bandara hingga pabrik kereta api, yang mengusung arsitektur ala Osing.

“Era otonomi daerah pasca reformasi adalah semacam perayaan bagi identitas Osing,” ujar Wiwin Indiarti. (ndu/kin).

Gambar Foto : Ilustrasi.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *