Beda Polling Dan Keputusan Senat. Jangan Salahkan Anggapan Ada Transaksi dan Kesepakatan Dalam Pildir Poliwangi

  • Bagikan

FaktaNews.-(Banyuwangi)- Kampus Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) itu dibangun menggunakan uang yang bersumber dari rakyat Banyuwangi sampai menjadi kebanggaan warga Banyuwangi. Walaupun sekarang dibawah Kemendikbud-Ristek, masyarakat Banyuwangi punya hak dan kewajiban untuk tahu.

Ini disampaikan Aktivis Pro Demorasi Banyuwangi, Danu Budiyono terkait Proses pemilihan direktur (PilDir) Poliwangi 2021-2025 yang dinilai terkesan dipaksakan senat.

Danu mengaku masyarakat Banyuwangi termasuk dirinya Masyarakat Banyuwangi punya harapan Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) menjadi perguruan tinggi yang maju, berprestasi, dan mampu menciptakan suasana akademik yang baik, nyaman, serta mencetak lulusan yang kompeten hingga mampu bersaing jangan terciderai.

Danu mengaku telah mencermati detail proses dan tahapan-tahapan dalam PiLDir Poliwangi Banyuwangi. Baik dari pemberitaan di media maupun di akun media sosial Poliwangi.

“Proses pemilihan direktur (PilDir) tidak mencerminkan demokrasi di dunia kampus,”kata Aktivis Prodem Banyuwangi, Danu Budiyono dikutip Media, (17/9/21).

Danu Budiyono tak habis pikir ketika hasil polling seluruh pegawai Poliwangi berbalik dengan hasil penyaringan bakal calon direktur yang ditetapkan oleh dalam rapat yang dihasilkan senat.

“Hasil polling bakal calon yang diluar 3 (tiga) besar justru terpilih dalam penyaringan dan penetapan 3 (tiga) bakal calon yang nantinya disampaikan ke kementerian pendidikan,” heran Danu.

Danu memahami, Polling suara bukan penentu keputusan Senat, tetapi publik berharap hasilnya tidak jauh dari aspirasi sivitas akademik yang ikut dalam polling suara.

Baca juga:  Sholat Idul Fitri Di Banyuwangi Diatur Mengacu Zonasi PPKM

“Semua diumumkan di website dan akun media sosial Poliwangi jadi publik jelas melihatnya juga,”katanya.

Lebih jauh Danu menilai, Senat tidak memiliki dasar standar kriteria yang jelas dalam penyaringan bakal calon direktur.

Bakal Calon Direktur dengan hanya ditentukan dari hasil voting 14 (empat belas) anggota senat, padahal saat Voting ada kemungkinan besar faktor like and dislike sebagai alat bantu voting.

Tentu saja dalam hal ini potensi terjadi transaksi dan kesepakatan di internal anggota senat, apakah itu bagi-bagi jabatan atau mungkin saja nilai finansial.

Diketahui, Senat mencantumkan nama M Shaiful Amin, Hadi Supriyanto dan Alfin Hidayat, tiga nama ini akan diajukan kepada Menristek sebagai Direktur Poliwangi Banyuwangi.

Nama ini tertuang dalam berita acara rapat tertutup senat penyaringan calon direktur Politeknik Negeri Banyuwangi periode 2021-2025 dengan nomor 5699/PL36/TP.01.03/2021.

Tiga nama itu beda dengan hasil polling website Poliwangi yang juga bagian keterbukaan penyaringan pemilihan Direktur Poliwangi.

Nama seperti Plt Direktur Poliwangi M Fuad Al Haris yang juga kandidat direktur peraih poling nomor 3 tak tercantum dalam kandidat usulan penetapan.

Bahkan nama peraih poling tinggi Kandidat Calon Direktur Poliwangi, DR Zaenal Arif juga harus tersingkir.

Zaenal Arif merupakan Doktor Enginering saat ini juga masih menjabat ketua Forum direktur Politeknik Negeri se-Indonesia ini.

“Terus muncul pertanyaan buat apa ada polling jika hasilnya tidak digunakan sama sekali dalam pertimbangan menentukan bakal calon yg ditetapkan, demikian juga buat apa ada penyampaian visi misi,” ungkapnya.

Baca juga:  Berkesan Kampanye Calon Bupati, Disempu Bantuan Sembako Partai Digagalkan

Menurut Danu, pada umumnya hasil penilaian polling atau quick accuonty selalu selaras dengan penetapan akhir.

“Ini kan terjadi sebaliknya, jadi aneh kan,” herannya.(*top/kor/kin).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *