Takut Hukum Agama Malah Jadi Korban Pungli Perdes, Masih Sekolah SMP ABG Dipaksa Nikah

Takut Hukum Agama Malah Jadi Korban Pungli Perdes, Masih Sekolah SMP ABG Dipaksa Nikah

Faktanews.co.id-(Banyuwangi)-Saian, warga Dusun Silirbaru, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur, harus mengalami dua derita akibat sikap pihak terkait.

Warga miskin ini harus melihat anak semata wayangnya yang masih dibawah umur, Putri Safitri (14) Padahal dia masih duduk dibangku SMP tidak bisa melanjutkan sekolah karena dipaksa nikah.

Parahnya lagi Saian juga jadi korban dugaan pungli mengatas namakan Perdes desa setempat sebesar Rp 15 juta.

“Saya cuma wong cilik, saya takut dihukum sama perangkat desa,” ucap Saian, Jumat (7/12/2018).

Derita pria 51 tahun tersebut bermula dari kisah asmara anaknya putri Safitri (14) dengan Zaenus (21), asal Desa Sukorejo, Kecamatan Siliragung.

Menghindari dosa dan dinilai saling mencinta, kedua orang tua Pasangan muda ini (Saian orang tua Putri Safitri dan Komar orang tua Zaenus) sepakat mengikat keduanya dalam ikatan agama (nikah siri).

“Itu kita lakukan agar anak-anak kami tidak melanggar hukum agama, yang kedua, karena anak saya, Putri, bercita-cita melanjutkan sekolah di SMK Negeri,” ungkap Saian.

Sayang niat baik kedua keluarga para ora
justru berbuah fitnah. Putri dan Zaenus disebut kumpul kebo. Hingga akhirnya mereka dipanggil perangkat Desa Sumberagung.

Disitu keduanya dipojokkan, diintimidasi dan dipaksa untuk nikah secara resmi.

Meski sempat dijelaskan tujuan, serta nikah siri atas sepengetahuan kedua orang tua. Tapi perangkat serta Kepala Desa (Kades) Sumberagung, Vivin Agustin, tetep ngotot.

Putri yang masih dibawah umur dipaksa menikah secara resmi. Tak berhenti disitu, orang tua Putri dan Zaenus juga dimintai uang Rp 30 juta. Dengan dalih itu denda sesuai yang tertera dalam Peraturan Desa (Perdes) Sumberagung.

“Awalnya diminta Rp 30 juta, sebagai orang gak punya, kami menawar, dan akhirnya denda diturunkan menjadi Rp 15 juta,” jelas Saian.

Untuk membayar, lanjutnya, dia terpaksa harus hutang kesana-kemari. Maklum, Saian hanya seorang petani.

“Terpaksa kami hutang, lha bu Kades minta dibayar saat itu juga atau diberi waktu maksimal dua hari, sampai bingung saya waktu itu,” katanya.

Disebutkan, dugaan pungli Perdes Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, terhadap Saian ini terjadi sekitar bulan Juni 2018. Uang diserahkan kepada Kades Vivin.

Namun, seperti pepatah ‘Semut pun akan menggigit saat diinjak’. Karena merasa terus didzolimi, Zaenus bersama keluarga akhirnya melawan. Dia mengancam akan mempermasalahkan tindakan Kades Vivin.

“Masak kami terus didzolimi, sampai-sampai kami harus melakukan acara pernikahan sampai tiga kali,” ujar Zaenus.

Informasi yang berkembang karena suasana memanas, sekitar bulan Agustus 2018, uang Rp 15 juta dikembalikan oleh Kades. Pengembalian dilakukan di Kantor Kecamatan Pesanggaran.(ver/kin).

Komentar

comments

Tagged with