Susul Ketua DPRD, KPK Tetapkan Walikota Mojokerto Jadi Tersangka Suap

Susul Ketua DPRD, KPK Tetapkan Walikota Mojokerto Jadi Tersangka Suap

Faktanews.co.id- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Wali Kota Mojokerto, KH.Drs Mas’ud Yunus, sebagai tersangka dugaan kasus suap.

Penetapan status tersangka Mas’ud berdasar pengembangan penyidikan terhadap empat tersangka lainnya.

Lima orang tersangka ini diduga terkait suap dalam pengalihan anggaran hibah Politeknik Elektronik Negeri Surabaya (PENS) dirubah menjadi anggaran program penataan lingkungan pada Dinas PUPR Kota Mojokerto Tahun 2017.

Empat tersangka itu masing-masing Ketua DPRD Kota Mojokerto Purnomo, Wakil Ketua DPRD Kota Mojokerto Abdullah Fanani, Wakil Ketua DPRD Kota Mojokerto Umar Faruq, dan Kepala Dinas PU dan Penataan Ruang Pemkot Mojokerto, pengusaha Wiwiet Febryanto.

Empat tersangka ini sebelumnya terjaring dalam operasi tangkap tangan KPK di Mojokerto, beberapa waktu lalu.

Dalam OTT KPK mengamankan uang Rp 470 juta. diantara dana itu Rp 300 juta merupakan dana komitmen fee dari Kepala Dinas untuk Pimpinan DPRD Mojokerto

Dari jumlah fei tersebut tahap pertama Rp 150 juta diantaranya sudah ditransfer pada 10 Juni 2017.

Sedangkan dana Rp 170 juta dana setoran triwulan yang disepakati sebelumnya.

“KPK mengeluarkan surat perintah penyidikan dan menetapkan Masud sebagai tersangka ke lima dalam kasus ini,”kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat jumpa pers di gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Kamis (23/11/2017).

Lebih Lanjut Pasal yang disangkakan kepada Mas’ud yakni pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Dari empat tersangka kasus ini, baru Wiwiet Febryanto yang telah divonis dengan dua tahun pidana penjara, denda Rp250 juta subsider enam bulan kurungan. Vonis sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Saat ini, baik Jaksa Penuntut Umum maupun terdakwa sedang mengajukan banding,” ungkap Febri.

Sementara tiga tersangka lainnya, Purnomo, Umar Faruq, dan Abdullah Fanani masih dalam proses hukum di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya.(dek/kin)

Komentar

comments