Susul Dua Terpidana Korupsi Panwaslu, Terlibat Kegiatan Fiktif dan Mark Up Tiga Komisioner Ditahan

Susul Dua Terpidana Korupsi Panwaslu, Terlibat Kegiatan Fiktif dan Mark Up Tiga Komisioner Ditahan

Faktanews.co.id.-(Banyuwangi)- Terkait dengan terdakwa korupsi yang lebih dulu sudah di vonis bersalah dijerat pasal Korupsi, tiga mantan komisioner Panwaskab Banyuwangi periode tahun 2013 itu ditahan pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Banyuwangi, Senin (16/7/18) siang.

Ketiga tersangka, Rory Desrino Purnama, Lilikh Maslikhah, dan Totok Haryanto ditahan dan langsung dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan Banyuwangi pukul 14.00 setelah lebih dulu menjalani proses penelitian berkas perkara dan barang bukti selama kurang lebih 5 jam.

Penahanan ketiga mantan Komisioner Panwaskab Banyuwangi periode tahun 2013 ini dilakukan hanya selang beberapa jam proses pelimpahan perkara atau tahap dua dari penyidik Kepolisian kepada penuntut umum Kejaksaan Negeri Banyuwangi.

Dalam kasus ini, sebelumnya Sekretaris dan Bendahara Panwaskab Banyuwangi periode 2013 yang sama, Sanhari dan Etik Rahmani divonis bersalah dengan hukuman penjara masing-masing selama 4 tahun.

Keduanya juga diwajibkan hakim Tipikor Jatim, untuk membayar denda masing-masing Rp 200 juta dan uang pengganti kerugian Negara masing-masing Rp 316 juta.

Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi, Adonis, menyatakan, penahanan ketiga mantan komisioner Panwaskab Banyuwangi merupakan bagian dari percepatan penanganan perkara ini.

Lebih jauh menurut Adonis, ketiga tersangka ditahan selama 20 hari kedepan terhitung 16 Juli 2018 dalam selang waktu itu penyidik mempersiapkan pelimpahan dalam proses persidangan ke Pengadilan Tipikor Surabaya.

Pasal yang dijeratkan pada tersangka adalah pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 yang diubah menjadi undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1e KUHP.

Ketiganya juga dijerat dengan pasal 3 ayat (1) jo pasal 18 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 yang diubah menjadi undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1e KUHP

“Untuk menghargai hak asasi manusia. Dengan dilakukan penahanan semua proses bisa dilakukan lebih cepat,” jelas Adonis.

Hasil penyidikan, dalam perkara dugaan korupsi ini, ketiga tersangka Rory Desrino Purnama, Lilikh Maslikhah, dan Totok Haryanto tidak bisa mempertanggungjawabkan kegiatan yang disertai bukti pendukung sehingga dinilai kegiatan fiktif.

Dari hasil penyidikan, terungkap tak sedikit kegiatan yang nilainya digelembungkan.

“Nilai kerugian mencapai Rp 633 juta,” pungkasnya.(kin).

Komentar

comments