Soal Korupsi e-KTP, Setnov Sebut Beberapa Nama Mantan Anggota DPR Termasuk Ganjar Pranowo

Soal Korupsi e-KTP, Setnov Sebut Beberapa Nama Mantan Anggota DPR Termasuk Ganjar Pranowo

Faktanews.co.id.- (Jakarta)- Selain meminta maaf, terdakwa Korupsi pengadaan e-KTP, Setya Novanto (Setnov) menyebut beberapa nama yang mendapat pembagian dana dalam koeupsi tersebut.

Ini dibeberkan Setnov yang sesekali terdengar isakan tangisnya dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (22/3).

Permintaan maaf Mantan Ketua DPR RI tersebut ditujukan Setnov kepada senua pihak baik untuk hakim, kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Tangisan Setnov mulai terdengar setelah hakim menyelesaikan pertanyaan.

“Yang mulia pertama-tama saya menyampaikan permohonan maaf saya tulus dari hati saya, kepada Yang Mulia Majelis Hakim kepada seluruh pengunjung sidang, kepada seluruh masyarakat Indonesia, dalam proses persidangan ini ada tingkah laku dan perbuatan saya telah mengganggu proses persidangan ini baik langsung maupun tidak langsung mohon dimaafkan,” katanya.

Setnov yang kehilangan jabatannya selaku Ketua Umum Partai Golkar tersebut juga mengaku telah mengembalikan uang yang dia terima dalam korupsi e-KTP.

“Saya telah melakukan pengembalian uang sebesar Rp.5 miliar ke rekening KPK, saya lakukan itu sebagai pertanggungjawaban saya,” kata Setnov.

Dalam persidangan Setnov juga menyebut beberapa mantan anggota DPR yang terlibat dalam korupsi e-KTP lengkap dengan nominal uang mereka terima masing-masing.

“Untuk Komisi II (DPR) Pak Chairuman sejumlah 500 (ribu US dolar) dan untuk Ganjar (Ganjar Pranowo) sudah dipotong oleh Chairuman dan untuk kepentingan pimpinan Banggar sudah sampaikan juga ke Melchias Mekeng 500 (ribu US dolar), Tamsil Linrung 500 (ribu US dolar) Olly Dondo 500 (ribu US dolar) di antaranya melalui Irvanto,” bebernya.

Sebelumnya saat sidang perdana Korupsi e-KTP dengan dua terdakwa mantan Direktur Pengelola Informasi Administrasi Kependudukan, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri Sugiharto, dan mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Irman.

Jaksa KPK  menyebutkan bahwa puluhan anggota Komisi II DPR periode 2009-2014 menerima fee dari uang anggaran proyek e-KTP.

Dalam dakwaan yang dibacakan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (9/3/2017),  dikronologikan sekitar bulan Juli hingga Agustus 2010, DPR RI mulai melakukan pembahasan RAPBN TA 2011 Salah satunya adalah anggaran proyek e-KTP.

Andi Agustinus (Andi Narogong) selaku pelaksana proyek beberapa kali melakukan pertemuan dengan sejumlah anggota DPR RI.

Swoanjutnya disetujui anggaran Rp 5,9 triliun kompensasinya Andi akan memberi fee kepada beberapa anggota DPR RI dan pejabat Kementerian Dalam Negeri

Dan disepakati 51 persen dari anggaran digunakan untuk proyek e-KTP.

Sisanya 49 persen untuk dibagi-bagikan ke Kemendagri, anggota DPR RI, dan keuntungan pelaksana pekerjaan (rekanan).

Dalam persidangan seperti dikutip Rayapos.com, selain Irman didakwa memperkaya diri sebesar Rp 2.371.250.000, 877.700 dollar AS, dan 6.000 dollar Singapura sedangkan Sugiharto mendapatkan uang sejumlah 3.473.830 dollar AS.

Ada nama-nama lain menerima dana untuk memperkaya diri sendiri, para terdakwa juga memperkaya orang lain masing-masing.

  1. Gamawan Fauzi (saat itu Menteri Dalam Negeri) sejumlah 4,5 juta dollar AS dan Rp 50 juta.
  2. Diah Anggraini (saat itu Sekretaris Jenderal Kemendagri) sejumlah 2,7 juta dollar AS dan Rp 22,5 juta
  3. Drajat Wisnu Setyawan (Ketua Panitia Pengadaan e-KTP) sejumlah 615.000 dollar AS dan Rp 25 juta
  4. Enam anggota panitia lelang, masing-masing sejumlah 50.000 dollar AS
  5. Husni Fahmi sejumlah 150.000 dollar AS dan Rp 30 juta
  6. Anas Urbaningrum sejumlah 5,5 juta dollar AS
  7. Melcias Marchus Mekeng (saat itu Ketua Banggar DPR) sejumlah 1,4 juta dollar AS
  8. Olly Dondokambey sejumlah 1,2 juta dollar AS
  9. Tamsil Lindrung sejumlah 700.000 dollar AS
  10. Mirwan Amir sejumlah 1,2 juta dollar AS
  11. Arief Wibowo sejumlah 108.000 dollar AS
  12. Chaeruman Harahap sejumlah 584.000 dollar AS dan Rp 26 miliar
  13. Ganjar Pranowo sejumlah 520.000 dollar AS
  14. Agun Gunandjar Sudarsa selaku anggota Komisi II dan Badan Anggaran DPR RI sejumlah 1,047 juta dollar AS
  15. Mustoko Weni sejumlah 408.000 dollar AS
  16. Ignatius Mulyono sejumlah 258.000 dolla AS
  17. Taufik Effendi sejumlah 103.000 dollar AS
  18. Teguh Djuwarno sejumlah 167.000 dollar AS
  19. Miryam S. Haryani sejumlah 23.000 dollar AS
  20. Rindoko, NU’man Abdul Hakim, Abdul Malik Haramaen, Jamal Aziz, dan Jazuli Juwaini selaku Kapoksi pada Komisi II DPR RI masing-masing 37.000 dolla AS
  21. Markus Nari sejumlah Rp 4 miliar dan 13.000 dollar AS
  22. Yasona Laoly sejumlah 84.000 dollar AS
  23. Khatibul Umam Wiranu sejumlah 400.000 dollar AS
  24. M Jafar Hapsah sejumlah 100.000 dollar AS
  25. Ade Komarudin sejumlah 100.000 dollar AS
  26. Abraham Mose, Agus Iswanto, Andra Agusalam, dan Darma Mapangara selaku direksi PT LEN Industri masing-masing mendapatkan sejumlah Rp 1 miliar
  27. Wahyudin Bagenda selaku Direktur Utama PT LEN Industri sejumlah Rp 2 miliar
  28. Marzuki Ali sejumlah Rp 20 miliar
  29. Johanes Marliem sejumlah 14.880.000 dollar AS dan Rp 25.242.546.892
  30. Sebanyak 37 anggota Komisi II yang seluruhnya berjumlah 556.000 dollar AS. Masing-masing mendapat uang berkisar antara 13.000 hingga 18.000 dollar AS
  31. Beberapa anggota tim Fatmawati, yakni Jimmy IskandarTedjasusila Als Bobby, Eko Purwoko, Andi Noor, Wahyu Setyo, Benny Akhir, Dudi, dan Kurniawan masing-masing sejumlah Rp 60 juta
  32. Manajemen bersama konsorsium PNRI sejumlah Rp 137.989.835.260
  33. Perum PNRI sejumlah Rp 107.710.849.102
  34. PT Sandipala Artha Putra sejumlah Rp 145.851.156.022
  35. PT Mega Lestari Unggul yang merupakan holding company PT Sandipala Artha Putra sejumlah Rp148.863.947.122
  36. PT LEN Industri sejumlah Rp 20.925.163.862
  37. PT Sucofindo sejumlah Rp 8.231.289.362
  38. PT Quadra Solution sejumlah Rp 127.320.213.798,36. (hay).

Komentar

comments

Tagged with