Sidang, KPK Tunggu Dibuka Aktor Intelektual Dibalik Penyiraman Air Keras Ke Mata Novel Baswedan

Faktanews.co.id.– Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) meminta Jaksa Penuntut Umum menggali fakta-fakta secara serius dan maksimal terkait kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

“Harapannya di persidangan nanti JPU akan berupaya maksimal dapat mengungkap fakta-fakta hukum,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri kepada wartawan, Kamis (19/3/2020).

Ini disampaikan Ali menanggapi dakwaan JPU terhadap dua terdakwa kasus tersebut, Rahmat Kadir Kadir Mahulette dan Ronny Bugis pelaku penyiram air keras pada novel 11 April 2017 lalu.

Ali mengatakan, JPU harusnya menggali fakta lebih jauh bahwa penyiraman air keras terhadap Novel sesaat usai shalat subuh di Masjid Al Ihsan dekat rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara yang menyebabkan mata novel cacat tersebut tidak hanya dilakukan oleh kedua terdakwa.

“Tapi dapat dikembangkan ke motif dan aktor intelektual di belakangnya yang saat ini belum terungkap,” ujar Ali.

Sementara itu, Tim Advokasi Novel Baswedan menilai sidang kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan yang dimulai hari ini merupakan formalitas saja.

“Tim Advokasi menilai bahwa sidang penyiram air keras terhadap Novel Baswedan tidak lain hanyalah formalitas belaka. Sidang dilangsungkan cepat, tidak ada eksepsi (penolakan/keberatan), tidak beroritentasi mengungkap aktor intelektual, dan kemungkinan besar berujung hukuman yang ringan,” kata anggota Tim Advokasi Novel, Saor Siagian, dalam siaran pers, Kamis (19/3).

Saor mengungkapkan ada sejumlah kejanggalan dalam sidang hari ini yang menunjukkan bahwa persidangan tersebut hanyalah formalitas.

Tim Advokasi menilai, motif pelaku sakit hati karena Novel menyidik korupsi di kepolisian dinilai janggal sehingga  dibuat alasan keduanya rela melakukan tindak pidana dengan segala resikonya.

Apalagi Novel juga tidak kenal dan tidak pernah juga berhubungan ada kaitan dengan pelaku dalam menyidik tindak pidana korupsi.

“Dakwaan JPU tidak menyebut fakta atau informasi terkait sosok yang menyuruh kedua terdakwa itu menyerang Novel,”katanya.

Sebelumnya Anggota Tim Advokasi Novel, Alghiffari Aqsa menyatakan, proses sidang penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan harus dikawal ketat karena dicurigai terdapat sejumlah kejanggalan dalam kasus tersebut.

“Kita berharap tidak seperti kasus Munir, berhenti hanya di eksekutor lapangan. aktor intelektual masih bebas tidak tersentuh hukum,” kata Alghiffari Rabu (11/3/2020)

Alghiffari menilai, kasus Novel ini juga menjadi pertaruhan bagi penuntasan penanganan tindak pidana korupsi, kepercayaan publik, dan juga citra kepolisian yang dikotori oleh penyiram dan jenderal diduga terlibat dibelakangnya.(koc/hay).

Komentar

comments

Tagged with