Satu Pelaku Bom Bunuh Diri di Gereja Di Surabaya Warga Banyuwangi

Satu Pelaku Bom Bunuh Diri di Gereja Di Surabaya Warga Banyuwangi

Faktanewd.co.id- (Banyuwangi)- “Puji Kuswati kelahiran Tembokrejo. Namun, sejak umur 20 bulan diasuh bude (tante, red) nya di Magetan. Secara administrasi, tak tercatat sebagai warga Tembokrejo,” ungkap Rusiono salah satu perwakilan keluarga, Senin (14/5).

H.Husni merupakan warga desa Tembok Rejo Dusun Krajan RT3/16, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar. Banyuwangi.

Namun Puji anak ketiga dari empat bersaudara ini sejak usia 20 bulan diasuh sepupu orang tuanya (bude) di Magetan, Jawa Timur.

Pernyataan ini terkait identifikasi yang mengungkap Puji Kuswati (43) salah satu dari enam pelaku bom bunuh diri di 3 gereja di Surabaya, Minggu (13/5) kemarin.

Selama ini Puji bersama dengan pelaku bom diri lainnya suaminya R Dita Oepriarto (47), dan empat anaknya, Yusuf Fadhil (18), Firman Halim (16), Fadhila Sari (12) dan Famela Rizqita (9) tinggal bersama di Wisma Indah Blok A 22, Rungkut, Kelurahan Wonorejo, Surabaya, Jatim.

Puji meledakkan bom bunuh diri di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Jl. Diponegoro, bersama dua anak perempuannya, Fadhila Sari (12) dan Famela Rizqita (9).

Menurut Rusiono Karena sejak kecil puji diasuh sepupu orang tuanya (bude) selama ini pihak keluarga, jarang berkomunikasi dengan Puji.

Lebih jauh, menurutnya saat hendak menikah, pihak keluarga di Banyuwangi sempat menolak puji akan dinikahi Dita Oepriarto yang dirasakan terlihat beda.

“Terlihat agak aneh, terutama pemahaman soal keagamaan. Jadi, keluarga Banyuwangi menolak, tapi mereka tetap menikah,” jelas Rusiono.

Sejak menikah perilaku Puji Kuswati yang lulusan sekolah perawat berubah dan sangat tertutup, jarang bergaul dengan keluarga.

Puji Kuswati juga jarang pulang ditempat orang tuanya di Banyuwangi, Terakhir, Puji Kuswati pulang bersama keluarganya, Januari 2018 lalu.

“Kalau pulang ke Banyuwangi tidak pernah lama. Dan jarang mau bergaul dengan keluarga, dia cenderung tertutup,” jelasnya.

Kepala Desa Tembokrejo Sumarto mengatakan, pelaku bom bunuh diri di Gereja Surabaya lahir di desa Tembok Rejo, Namun, tak tercatat secara administrasi.

“Sesuai pengakuan keluarga, sejak kecil diasuh budenya di Magetan. Jadi, bukan warga Muncar, hanya kelahiran sini,” jelasnya. (kin).

Komentar

comments

Tagged with