Ribuan Ayam Bertelur Mati, Kades Bomo dan Sekcam Blimbingsari Segera Disidang Pengadilan

Ribuan Ayam Bertelur Mati, Kades Bomo dan Sekcam Blimbingsari Segera Disidang Pengadilan

Faktanews.co.id.- “Kami sudah menerima tahap ke-2,tidak ada penahanan kepada kedua tersangka karena secara hukum pasal yang menjerat,”papar Kasi Pidum (Pidana Umum) Kejari Banyuwangi, Koko Erwinto Danarko,SH,MH.(30/10/2018).

Pernyataan Koko ini terkait perkara yang menyeret dua oknum pejabat di Banyuwangi yaitu Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Bangorejo, Bambang Sungkono dan Kepala Desa (Kades) Bomo, Suratman, yang kini dalam persiapan menyerahkan ke Pengadilan Negeri Banyuwangi untuk di jadwalkan sidang.

Dua tersangka Bambang Sungkono, tersangkut perkara saat dirinya menjabat Sekcam Blimbingsari dan Kades Suratman yang kini didampingi kuasa hukum M Fahim SH. oleh pihak kepolisian diduga sebagai pelaku penutupan kandang ayam bertelur milik Melaningsih (pelapor) yang berlokasi di Desa Bomo Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, hingga menyebabkan kerugian milliaran rupiah.

Keduanya jadi tersangka karena perbuatan mereka tersebut dianggap bukan kewenangan jabatannya, sehingga kepolisian pun menetapkan mereka berdua sebagai tersangka dan dijerat dengan pasal 406 ayat 2 Jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Dalam perjalanan proses hukum perkara yang dilaporkan Milaningsih (pemilik usaha ayam bertelur) sejak 20 Februari 2017 ini sempat ada kendala saat Penyidikan sudah dianggap lengkap (P21), dan dijadwalkan penyerahan tersangka dan barang bukti dari Pihak Kepolisian.

Pasalnya, JPU yang menanganinya pindah tugas,menunggu Jaksa Penuntut Umum (JPU) pengganti karena JPU yang menanganinya dipindah tugas.

“tahap ke-2 kemarin,setelah ini kami akan lakukan pelimpahan ke pengadilan, agar pihak pengadilan dapat menentukan hakimnya sehinga persidangan dapat segera digelar,dan tentunya tugas kita (JPU) bisa membuktikan dalam dakwaan bahwa kedua nya melanggar pasal itu,”terangnya.

Sementara itu kuasa hukum Milaningsih (korban), Misnadi SH.Mhum mengatakan, proses hukum hendaknya mempertimbangkan dampak psikologis dan kerugian bagi kliennya.

“Ini tidak bisa dibenarkan, hanya gara-gara pebuatan tersangka kliennya mengalami kerugian Milyaran rupiah, coba kita hitung ribuan ayam yang mestinya bertelur karena pintunya ditutup akhir tidak bisa diberi makan, ribuan ayam mati kelaparan,sudah tahun bu milan juga tidak bisa menjalankan usahanya,”ungkap Misnadi.(kin).

Komentar

comments

Tagged with