Rektor UI, Perguruan Tinggi Harus Ikut Menyelesaikan Persoalan Bangsa

Rektor UI, Perguruan Tinggi Harus Ikut Menyelesaikan Persoalan Bangsa

Faktanews.co.id.- Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Ir Muhammad Anis, M.Met mengatakan, “Sebagai pusat riset dan pengabdian masyarakat, UI menyadari akan pentingnya peran universitas sebagai knowledge creation yang salah satunya dapat berperan untuk turut serta menyelesaikan permasalahan bangsa dan menjalankan beragam upaya akselerasi pembangunan negara.” Katanya dalam Simposium Internasional “Scholar Summit 2017” di Makara Art Center UI kampus Depok. (11/10).

Dalam acara yang berlangsung dua hari Selasa dan Rabo (11/10) dengan menghadirkan para akademisi dari Perguruan Tinggi terkemuka dunia ini, maupun peneliti lintas ilmu dari berbagai belahan dunia guna berkolaborasi memberikan kontribusi memberikan kontribusi solusi atas permasalahan yang tengah dihadapi Indonesia, khususnya dan dunia.

Selain menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai fakultas di lingkungan UI. Pada acara ini juga menghadirkan Prof dr Nico PE Vermeuleen dari Vrije University – Belanda ; dari bidang Sains & Teknologi menghadirkan Prof Myung Hoon Sunwoo, Ajou University – Korea Selatan ; Olivier Rukundo PhD, Norwegian University of Science and Technology – Norwegia ; Prof Shunichiro Ogura, Tokyo Institute of Technology – Jepang. Sedangkan di bidang Sosial Humaniora hadir Prof. Stephen Oppenheimer, Oxford University – Inggris ; Prof. Jan De Goede, University of Lodz – Polandia, Dr. Andrew Mitchell, Melbourne University – Australia.

Rektor UI Muhammad Anis mengajak membahas sejumlah permasalahan yang hadir di negeri ini maupun di tengah dunia seperti kemiskinan, kelaparan, minimnya pelayanan kesehatan yang adil dan merata, pendidikan berkualitas, pengelolaan air bersih dan sanitasi.

Solusi energi terbarukan, pengentasan pengangguran, pertumbuhan ekonomi, inovasi industri dan infrastruktur, upaya pemerataan pembangunan dan lainnya.”

Lebih jauh, Melalui Scholar Summit 2017, UI mengajak seluruh akademisi baik di Indonesia maupun di negara-negara lain untuk dapat bekerjasama dalam mewujudkan tujuan dari SDGs, sebagai bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam membentuk masyarakat dan dunia yang lebih baik demi kepentingan generasi yang akan datang.

Tema “Shaping The Better World” menjadi sebuah gema yang tidak hanya berdengung pada saat berlangsungnya Scholar Summit 2017. Melainkan, menjadi pesan yang terus-menerus akan bergulir kepada seluruh akademisi di Indonesia dan dunia.

Mohammad Anis mengatakan, simposium internasional ini, turut dapat meningkatkan semangat internasionalisasi di UI, meningkatkan mobilitas staf dan mahasiswa, serta mengupayakan pengakuan kesetaraan antara institusi Pendidikan Tinggi.

Saat ini, UI mengembangkan sayapnya melalui kerjasama dengan lebih dari 200 Perguruan Tinggi di dunia.

Seperti, University of Tokyo, Kyoto University, Osaka University, Leiden University, Utrech University, Groningen University, Maastrich University, Peking University, Tsinghua University, Seoul National University, Hanyang University, Australian National University, Melbourne University, University of Sydney.

Oxford University, King’s College London, Queen Belfast University, University of Washington, Cornell University, National University of Singapore, Chulalongkorn University.
University of Malaya dan National Taiwan University dll.

UI juga secara aktif berpartisipasi dalam Jaringan Internasional dengan bergabung ke dalam berbagai asosiasi Perguruan Tinggi baik itu ditingkat Regional maupun internasional.

Antara lain, APRU (Association of Pacific Rim Universities), AUN (ASEAN University Network), ASAIHL (The Association of Southeast Asian Institute of Higher Learning), SEAMEO (the Southeast Asian Minister of Education Organization).

GUNI (Global University Network for Innovation), SATU Presidents’ Forum, Asian University Presidents, ASEA UNINET, IREG (International Observatory on Academic Ranking and Excellent), APL, EPL Education Forum, AUAP (Association of University of Asia and The Pacific), USIPP Consortium (United States-Indonesia Partnership Program), Tokyo Foundation, IIE (Institute of International Education) dan AUA (Asian University Alliance). (lic/hay)

Komentar

comments