Sudah Ada 2 Rumah Sakit di Singonegaran,Puskesmas Dekat

TANAH STRENFaktanews.co.id.(Banyuwangi) Banyak orang menilai, demonstrasi dan protes serta laporan kepada pihak terkait dengan memaksa minta didirikan pusat kesehatan masyarakat di tanah stren singonegaran bernuansa politis dan tendensius sentiment pribadi kepada pihak tertentu

protes keinginan Pembangunan stren yang berijin tersebut dipaksakan untuk diganti menjadi pembangunan pusat kesehatan masyarakat (Puskeskel) Singonegaran hanya jadi sarana membenturkan pemilik ijin manfaat dengan masyarakat.

Nyatanya, Walau dalam aturan siapapun warga Negara berhak mengajukan ijin. Yang ironis, ada skenario pihak tertentu dibelakangnya memancing benturan masyarakat dua lingkungan, terkait posisi tempat tinggal pemilik ijin manfaat.

Data dari sumber pemkab.banyuwangi dalam usulan usulan musrenbangkel kelurahan Singonegaran dan kecamatan Banyuwangi sebelumnya yang terakhir tahun 2013-2014 tidak tercantum usulan pendirian Puskeskel Singonegaran.

Sejumlah RW di Singonegaran juga mengatakan tidak pernah ada usulan pendirian Puskeskel apalagi akan didirikan di atas tanah yang sudah ada pemilik ijin manfaatnya.

” kalau kita patokannya musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) gak ada itu, perlu di ingat kita tidak bisa memaksakan diri, singonegaran itu luas bukan RW yang protes itu saja, kalau kita tahu batas kewenangan, itu hak pengairan dengan yang punya ijin, syukur-syukur bisa bermanfaat,” kata beberapa RW/RT lainnya tak mau di sebut namanya kuatir dikira memihak.

Sementara itu, layanan kesehatan warga Singonegaran selama ini lancar, rumah sakit Blambangan dan RS. Yasmin masih satu wilayah dengan kelurahan Singonegaran, puskesmas Singotrunan masih tetangga kelurahan hanya berjarak 1,2 KM.

Ketua badan keswadayaan masyarakat (BKM) pengentasan kemiskinan kelurahan Singonegaran yang juga ketua RW Hayatul Makin hanya tersenyum diminta pendapatnya mengenai demonstrasi sejumlah orang mengatas namakan warga Singonegaran

Sikap sama ketika dikonfirmasi mengenai tuduhan dirinya merubah surat ijin stren yang dimiliki menjadi perumahan dan pertokoan. “kalau saya hanya berpikir positif aja. bagaimana yang dulu kotor menjadi bersih, yang mudlorot bisa bermanfaat, yang gelap jadi terang,” katanya.

Beberapa wartawan dan Lsm meninjau bangunan diatas tanah stren tsb. tak ada tanda-tanda bentuk bangunan rumah pribadi atau perumahan ataupun ruko.

Masuk kedalam bangunan kosong terbuka, yang rencananya di manfaatkan membantu tempat usaha warga sekitar. Di samping timur ruang terbuka sudut pandang hanya di batasi batako setinggi 1 M sehingga udara bebas masuk. bangunan depan tanpa pagar dan sebelah timur tampak terencana lokasi pembuatan pos kamling.dan taman..

“Kalau menurut gambar, jalan atau gang di sebelah timur, dibibir sungai, tapi katanya warga melalui kelurahan minta jalan sebelah barat, itu sudah dipenuhi, pondasi yang ada gak dipakai, Trap untuk jalan ke sungai itu sudah dibuatkan, Pos kamling di timur, warung itu masuk jualan didalam”, kata ji dan turik bersama 2 orang yang mengaku mau ikut jualan.(gus/yak/dod/wan)

Komentar

comments