MUI dan Ormas Islam Tanggapi Usulan Ditengah Wabah Corona Puasa Ramadhan Bisa Diganti Fidyah

Faktanews.co.id.- “Gak berdasar, syariahnya itu apa. Karena orang yang boleh tidak berpuasa itu hanya orang sakit, ketika dalam perjalanan, dan orang tua renta,” ujar  Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Prof Hasanudin AF.

Ini disampaikan Prof Hasanudin AF terkait adanya usulan agar MUI membuat fatwa umat Islam diperbolehkan untuk tidak berpuasa Ramadhan di tengah situasi Covid-19 (Corona) dan diganti dengan fidyah.

Guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menjelaskan, dalam kitab-kitab fikih hal-hal yang boleh meninggantinya dengan fidyah diantaranya, orang tua renta yang sudah tidak mampu lagi berpuasa Ramadhan.

“Makanya, Islam itu kan begitu adil. Nah, orang tua renta itu apakah harus menggantinya juga? Kan dia makin gak kuat, makanya fidyah itu solusinya,” terangnya seperti dikutip dari Republika.co.id,(20/4/2020).

Seperti diketahui, belum lama ini Rudi Valinka melalui akun Twitter-nya, @kurawa mengusulkan pendapat agar Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengeluarkan fatwa agar umat Islam diperbolehkan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan dan menggantinya dengan fidyah, yaitu memberi makan orang miskin.

“Mumpung lagi libur, gue punya usul seandainya Bulan puasa yang akan tiba 17 hari lagi, Kemenag dan MUI buat fatwa utk memperbolehkan orang tidak berpuasa dengan cara membayar fidyah (denda) memberikan makan utk orang miskin..ini cara yang paling ideal dalam kondisi skr,” tulis Rudi Valinka, Ahad (5/4) lalu.

Namun demikian dalam akunnya, Rudi Valinka mengklarifikasi hal tersebut dengan fatwanya dengan tulisan “memperbolehkan” bukan kewajiban dst.

Sementara itu, dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) secara tegas tak sependapat usulan kepada MUI untuk membuat fatwa tentang diperbolehkannya umat Islam tidak berpuasa Ramadhan di tengah situasi Covid-19 yang sempat viral di media sosial ini.

Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Ustadz Syamsul Hidayat mengatakan, usulan untuk membuat fatwa tersebut kurang tepat lantaran sebagian besar umat Islam Indonesia saat ini masih sehat.

“Usulan itu kurang tepat, karena masih banyak atau sebagian besar kaum Muslimin itu sehat-sehat saja dan memiliki istitha’ah (kemampuan) untuk berpuasa,” kata Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Ustadz Syamsul Hidayat.

Menurutnya, semua ummat Islam, yang berakal, sudah baligh, sehat dan tidak sedang bepergian diwajibkan untuk berpuasa pada bulan Ramadhan.

Kecuali jika orang Islam dalam keadaan sakit atau bepergian diperbolehkan tidak berpuasa.

“Yang boleh diganti fidyah itu orang yang terhalang dalam melaksanakan puasa, mungkin karena usia yang tua atau mungkin juga karena pekerjaan yang berat,” ucapnya.

Pendapat sama disampaikan, Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), KH Misbahul Munir terkait usulan fatwa yang memperbolehkan umat Islam tidak berpuasa di tengah Covid-19.

Sebenarnya tanpa fatwa pun itu sudah ada aturannya kok, ada ketentuannya (dalam hukum Islam/dalam kitab-kitab fikih) misalnya, orang sakit atau bepergian dan lain-lain itu diperbolehkan untuk tidak berpuasa,” jelasnya.(rec/hay).

Komentar

comments