MUI Banyuwangi Tausiyah Sholat Jum’atan Ditengah Wabah Corona

Faktanews.co.id.-(Banyuwangi)- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi menunjukkan eksistensi dalam menyelamatkan ummatnya dengan mengeluarkan Tausiyah penyelenggaraan ibadah ummat muslim dalam Situasi terjadi Wabah Covid-19 dalam sebaran Virusnya di Banyuwangi.

Melalui suratnya MUI Banyuwangi memberikan Tausiyah agar segenap warga muslim untuk menghindari  kegiatan banyak orang berbagai tempat.

MUI juga menyarankan agar masyarakat tidak keluar rumah bila sesuatu yang mendesak saja.

“Kepada Ta’mir madjid Agung, Masjid Besar, Masjid Jami’ serta musholla serta kaum muslimin untuk tidak menyelenggarakan kegiatan  keagamaan yang banyak melibatkan banyak orang,”Kata ketua MUI Banyuwangi KH. M Yamin lc dalam salah satu bunyi suratnya, (25/3/2020).

Tak lepas dari fatwa MUI pusat Nomor 14 Tahun 2020 tanggal 16 Maret 2020 sebelumnya, MUI Banyuwangi juga memberi Tausiyah kalangan muslim Banyuwangi untuk tidak kemasjid menjalankan salat Jum’atan.

Dalam Surat yang ditanda tangani juga oleh Komisi Fatwa MUI Banyuwangi H Lukman Hakim, Ummat Muslim disarankan agar Ta’ Mir Masjid dan Ummat Muslim untuk tidak menyelemggarakan Sholat Jum’at al 27 Maret 2020 dan 3 April 2020.

“Menggantinya dengan sholat dluhur berjama’ah dirumah masing-masing,”jelasnya.

Namun demikian hasil rapat komisi fatwa dan pengurus harian MUI Banyuwangi tertanggal 23 Maret 2020 juga berjanji akan melakukan perubahan atau meninjau Tausiyahnya berdasarkan perkembangan Wabah Corona bila sudah menurun drastis.

Seperti diketahui, sebelumnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa salah satunya terkait hukum salat Jumat bagi umat Islam di tengah merebaknya virus korona (Covid-19).

Fatwa yang ditetapkan pada 21 Rajab 1434 Hijriah atau 16 Maret 2020 Masehi MUI dikantor pusatnya Jakarta, memperbolehkan kalangan muslim tidak menjalankan salat Jumat di masjid jika di suatu dearah ditetapkan sebagai zona bahaya penyebaran virus mematikan itu.

Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Hasanuddin AF mengatakan, dalam situasi penyebaran COVID-19 yang tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam boleh tidak menyelenggarakan salat Jumat di kawasan tersebut.

Dan bagi muslim yang terpapar corona, wajib baginya untuk mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain.

Menurut pertimbangan MUI, salat Jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal.

“Dia (umat muslim) dapat mengganti salat Jumat dengan salat zuhur di tempat kediaman,”terangnya Selasa (17/3/2020).

Menurut MUI suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi yang berhak menetapkan adalah  pihak yang berwenang (Pemerintah).

Dalam situasi keadaan yang dimaksud, kata dia, umat Islam agar menghindari salat berjamaah lima waktu/rawatib, tarawih dan ied di masjid atau tempat umum lainnya guna menghindarkan diri sebaran penularan.(kin).

Komentar

comments

Tagged with