Menyorot Dampak Tak Konsisten Jalankan Regulasi Dinas Pengairan

Menyorot Dampak Tak Konsisten Jalankan Regulasi Dinas Pengairan

Faktanews.co.id.-(Banyuwangi)–Ketegasan dan kesigapan petugas dari Pengairan Banyuwangi dalam menangani persoalan pelanggaran diarea tugasnya perlu dipertanyakan.

Ini kembali nampak pada masalah konflik warga gang Sawo, Rogojampi dengan pemilik toko handphone Hacom.

Reaksi dinas pengairan Banyuwangi yang pura-pura tidak tahu lahan kewenangan dipasang kisi-kisi diatas Avour Rejeng oleh Hadcom berakibat memancing konflik sosial ditengah masyarakat.

Bahkan camat setempat sempat turun tangan berupaya meredam dan mengirim surat surat 503/3016/419.507 tertanggal 24 Oktober 2019 berisi laporan hasil tinjau lapang pembangunan kisi kisi Avour

“Kami mohon dengan hormat kepada Bapak Kepala Dinas Pengairan Banyuwangi untuk tinjau lapang dan dilakukan pembongkaran sesuai dengan permintaan Masyarakat Dusun Maduran, (karena) dilokasi tersebut adalah pusat penyebab banjir,”bunyi kutipan surat Camat Rogojampi, Nanik Machrufi SP,tertanggal 24 Oktober 2019.

Untungnya warga sekitar tak bosan melakukan protes agar dinas pengairan benar-benar bertindak.

“Kita akan terus berusaha dan berupaya meminta kepada pihak terkait agar mengembalikan apa yang sudah dibangun HACOM dikembalikan seperti semula, kami masih trauma akan kejadian banjir dan meluapnya air sungai dikarenakan penyempitan di kiri dan kanan aliran sungai,”tutur H. Adit, salah satu warga sekitar kepada sejumlah wartawan,(1/11).

Kabid bina manfaat PU Pengairan, Doni Arsela Sofyan dihubungi melalui whatsapp tidak menjawab begitu pula belum ada komentar dari Kepala Korek Air Setempat.

Korek Air Banyuwangi Plin-Plan.

Sikap tak jelas dan terkesan plin-plan Dinas Pengairan juga di tunjukkan pada penanganan dua lahan stren di Kelurahan Singonegaran hingga kini.

Penguasaan ilegal tanah stren dibelakang gedung Kelurahan Singonegaran yang puluhan tahun sebelumnya merupakan sarana olah raga dan bermain masyarakat umum tersebut namun dalam dua tahun terakhir digunakan ilegal oknum untuk komersial Gantangan burung.

Ironisnya lagi, Surat perintah pengosongan dari dinas pengairan sebelumnya tak bertaji, justru hiruk pikuk suara teriakan-teriakan peserta burung berkicau gunakan stren ilegal itu kini tanpa waktu (hingga malam hari) namun Dinas Pengairan berpura-pura tidak tahu.

“(gantangan burung) tak punya ijin teriak-terian sampek malam dibiarkan,”kata Ya dan Sy serta beberapa warga sekitar terheran,(2/1/2019).

Sikap plin-plan dinas PU pengairan juga nampak dalam hal lanjutan pemanfaatan bangunan diatas lahan stren berijin yang tak jauh dari arena ilegal burung berkicau tersebut.

Sebelumnya, warga yang sudah punya ijin resmi diminta mengalah karena Dinas pengairan berjanji akan mengunakan sebagai rumah pantau kalilo atau rumah dinas korek air, kantor arsip, namun tiga tahun berlalu hal itu hanya janji.

“Yang punya ijin di suruh mengalah, (gantangan burung) yang tak punya ijin dibiarkan,”kata dy (2/1/2019).

Dikonfirmasi sebelumnya, Kepala Korek Air Banyuwangi Eko Susanto mengklaim Satpol PP harus tegas membongkar gantangan burung yang tersembunyi di belakang Kelurahan Singonegaran karena tak punya ijin penggunaan lahan stren.

“Saya akan chek lokasi,”katanya.

Sedangkan bangunan gedung yang disamping jembatan pinggir jalan progo, agar tidak jadi rebutan oknum lain tanpa legalitas, Menurut PNS yang kini sibuk dengan urusan cerai karena istri-istrinya ini, akan digunakan untuk keperluan dinas pengairan.

“Ini masalah lama yang belum selesai, Itu orang (operator gantangan burung) kok gak malu, tidak punya ijin disuruh mengosongkan tetap saja menguasai untuk gantangan burung. Sekarang malah bangunan juga ada yang akan menguasai,”katanya didepan wartawan seakan sibuk telpon satpol PP.(Tm/kur/ham).

Komentar

comments

Tagged with