Puji Kuswati Sosok Pelaku Bom Bunuh Diri RS Surabaya

Puji Kuswati Sosok Pelaku Bom Bunuh Diri RS Surabaya

Faktanewd.co.id- (Banyuwangi)- Adanya identifikasi salah satu pelaku Bom bunuh diri Surabaya, adalah kelahiran Banyuwangi, membuat tak sedikit publik ingin mengetahui sosoknya.

Dalam penelusuran, salah satu pelaku berperan dalam bom bunuh diri di 3 gereja di Surabaya, Minggu (13/5) kemarin lahir di Banyuwangi adalah Puji Kuswati (43).

Puji adalah istri dari pelaku bom diri lainnya di Gereja Pantekosta Pusat, Surabaya, R Dita Oepriarto (47) dikaruniai empat anak.

Puji meledakkan bom bunuh diri di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Jl. Diponegoro, bersama dua anak perempuannya yang nasih usia anak-anak, Fadhila Sari (12) dan Famela Rizqita (9).

Puji juga merupakan ibu dari dua anak pelaku bom lainnya (gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela), Ngagel, Surabaya, yang masih tergolong masih remaja, Yusuf Fadhil (18), Firman Halim (16).

Puji bersama suami dan empat anaknya tinggal bersama di Wisma Indah Blok A 22, Rungkut, Kelurahan Wonorejo, Surabaya, Jatim.

Puji merupakan anak dari pengusaha jamu pasangan H.Husni (H.Koesni) dan Minarti Isfin warga Desa Tembok Rejo Dusun Krajan RT 03/16, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar. Banyuwangi.

Puji Kuswati tidak tercatat dalam kependudukan Banyuwangi karena sejak usia 1 tahun 8 bulan diasuh atau di adopsi oleh sepupu orang tuanya, almarhumah Sukar, asal Magetan, Jawa Timur.

Kepala Desa Tembokrejo Sumarto mengatakan, pelaku bom bunuh diri di Gereja Surabaya lahir di desa Tembok Rejo, Namun, tak tercatat secara administrasi.

“Secara administrasi, tak tercatat sebagai warga Tembokrejo, sesuai pengakuan keluarga, sejak kecil diasuh budenya di Magetan. Jadi, bukan warga Muncar, hanya kelahiran sini,” jelasnya.

Puji Kuswati lulusan sekolah SMA 2 Magetan dan sempat lulus sekolah perawat Akper di Surabaya.

Saat hendak menikah, pihak keluarga di Banyuwangi sempat menolak Puji akan dinikahi Dita Oepriarto.

“Terlihat agak aneh, terutama pemahaman soal keagamaan. Jadi, keluarga Banyuwangi menolak, tapi mereka tetap menikah,” ungkap H.Rusiono salah satu perwakilan keluarga, Senin (14/5).

Sejak menikah perilaku Puji Kuswati sangat tertutup, jarang berkomunikasi dengan keluarga di Banyuwangi, namun Puji Kuswati sempat pulang ke Banyuwangi bersama keluarganya, Januari 2018 lalu.

“Kalau pulang ke Banyuwangi tidak pernah lama. Dan jarang mau bergaul dengan keluarga, dia cenderung tertutup,” jelasnya.

Puji juga ikut merasakan kesuksesan usaha jamu dari Ayah dan ibu kandungnya H. Husni dan Hj. Minarti Isfin.

Terakhir Puji sempat dibelikan mobil Avanza namun surat BPKB nya masih dipegang H. Husni.

Tidak ada keterangan kenapa BPKB tidak disertakan, apakah berkaitan karena dua mobil lain yang sebelumnya dibelikan H. Husni di jual.

Sebagai bentuk rasa sayang Puji merasakan perhatian orang tua kandungnya dalam kepemilikan rumah yang dijadikan tempat tinggal bersama suami dan empat anaknya sebagai penduduk Kelurahan Wonorejo, Surabaya, Jatim.

“Rumah itu harganya Rp 600 juta, keluarga sini membantu Rp 350 juta, namanya orang tua kepada anak apalagi kalau ingat cucunya,” kata Rosiono. (kin).

 

Komentar

comments

Tagged with