Mengaku Keceplosan Berkata Rasis, Samsul Arifin ASN Pemkot Surabaya Ditahan Susul Mak Susi

Mengaku Keceplosan Berkata Rasis, Samsul Arifin ASN Pemkot Surabaya Ditahan Susul Mak Susi

Faktanews.co.id.– Satu tersangka lain yang ditahan Polda Jatim terhitung tanggal 3 Septembet 2019 dalam kasus yang bersama Tri Susanti (Mak Susi) Adalah Samsul Arifin, pria ini tercatat ASN di jajaran Kecamatan di lingkungan Kecamatan Tambaksari.

Seperti diketahui, aksi asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya, pada, Sabtu (17/8/2019) waktu itu dijadikan pemicu konflik rasisme dan serangkaian rusuh di Papua dan Papua Barat yang terus berlarut.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya M Fikser mengaku sudah mengetahui Tersangka Samsul Arifin adalah ASN di jajaran kecamatan di lingkungan Kecamatan Tambaksari.

“ASN sudah sepatutnya bekerja secara professional dan mengedepankan pelayanan untuk masyarakat, Hal itu sudah diatur dalam undang-undang juga, jadi harus selalu menjaga attitude dalam bermasyarakat,”jelasnya.

Dalam kasus itu, tersangka Samsul Arifin menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga masyarakat Papua atas kata yang di ucapkan saat aksi di Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya, pada, Sabtu (17/8/2019) waktu itu.

Sedangkan terkait statusnya sebagai tersangka menyusul status Tri Susanti, termasuk penahanannya, hal itu dia serahkan kepada pengacaranya.

Kuasa Samsul Arifin, Ari Hans Simaela mengakui, kliennya mengeluarkan ucapan cenderung bernada rasis namun ucapan itu terjadi secara spontan.

“Tadi klien kami SA menitip pesan bahwa dia tidak ada maksud melontarkan pernyataan yang menghina atau mendiskreditkan suku lain,” kata Ari Hans di Halaman Gedung Ditreskrimsus Mapolda Jatim, Selasa (3/9/2019) dini hari.

“Itu bukan dengan tujuan menghina atau merendahkan atau mendiskriminasikan suku atau kelompok atau teman-teman yang ada di asrama,” imbuh Ari Hans.

Ari Hans mengakui, kliennya tengah menjalankan tugas sebagai ASN di lingkungan Pemkot Surabaya saat terjadi ricuh di Asrama Mahasiswa Papua, Jumat (16/8/2019) silam.

Menurut Ari Hans, pernyataan yang dilontarkan kliennya itu bersifat spontanitas bukan untuk menistakan atau bahasa kerennya diskriminasi ras.

“tidak memiliki maksud untuk mengolok ataupun menghina, bukan dengan tujuan menghina atau merendahkan atau mendiskriminasikan suku atau kelompok atau teman-teman yang ada di asrama,”jelasnya.(bes/hay).

Komentar

comments

Tagged with