Menengok Rumah Gedek Kusniah, Sang Mantan Primadona Gandrung Banyuwangi

Menengok Rumah Gedek Kusniah, Sang Mantan Primadona Gandrung Banyuwangi

Faktanews.co.id.(Banyuwangi)– Dulu ketika menyebut nama Kusniah, orang langsung ingat seorang gandrung asal Banyuwangi nan cantik dengan ketenarannya dan sanjungan-sanjungan.

Hasil rekaman berbentuk Pita kaset menghiasai kotak kaset disudut rumah penduduk masyarakat Banyuwangi  pemilik tipe recorder , Suara Kusniah juga sudah familier ditelinga masyarakat pendengar Radio Banyuwangi karena seringnya menempatkan suara gandrung Kusniah untuk menyapa pemirsa.

Suara emas wanita asal desa Pengantigan Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi ini juga sempat menghiasi catatan perusahaan dapur rekaman  milik Negara di surakarta yaitu LOKANANTA.

Kusniah yang dilahirkan pada tahun 1951 layaknya Primadona seni gandrung saat itu,  ketenarannya membuat dirinya sempat di undang ke negeri Sakura Jepang untuk unjuk kebolehan sebagi pelaku seni Gandrung.

Popularitas namanya yang melegenda juga masih melekat di Banyuwangi, terbukti suara emasnya di jadikan Background Jingle “Banyuwangi Tour D’ijen” yang kini mendunia sebagai promo Wisata Banyuwangi.

Sayangnya, potret popularitas pelaku seni tak menjamin kehidupan masa depan ekonomi ketika era keemasan berganti, terkikis dengan waktu dan kebutuhan kehidupan yang tak kenal kompromi, hal ini kini di alami Si Primadona Seni Gandrung, Kusniah.

Miskin dekumentasi karya bahkan tak punya satupun bukti Rekaman kaset Lantunan suaranya seakan mengiringi Kehidupan ekonominya yang kini jauh dari kata layak.

Suara yang dulu sangat dinanti dan kecantikan digandrungi oleh setiap pria yang selalu memuja hanya untuk sekedar mendapatkan senyum si cantik Gandrung Kusniah, kini hanyalah nama biasa yang tiap hari dalam kungkungan bingkai potret keprihatinan kehidupan ekonomi.watch full Beauty and the Beast film

Diusia kini mencapai 66 tahun Kusniah hanya tinggal di rumah berukuran kecil terbuat dari gedek (anyaman bambu) di sekitar Kabat Banyuwangi.

Lebih memprihatinkan lagi, rumah potret orang miskin itu ternyata juga berdiri diatas tanah berstatus kontrak milik PT KAI.

Hidup yang pas-pasan Kusniah seakan lengkap dengan derita gagal enam kali membangun rumah tangga menyisakan kebersamaan dirinya yang kini tinggal dengan anak angkatnya yang juga mengalami keterbelakangan mental.

Saat ini Kusniah sudah tidak punya apa apa, kelihaiannya diatas panggung sudah beralih dengan kesibukan membuat ramuan jamu tradisional dengan modal alakadar bahkan terkadang kekurangan sehingga acapkali tidak bisa membuat jamu lagi.

Ayong Laros Banyuwangi selaku ketua group medsos Halo Banyuwangi yang juga dikenal sebagai salah satu pencipta lagu mengatakan,

“terakhir saya dan beberapa rekan berkunjung di rumah Bu kusniah untuk melihat kehidupannya saya berharap ada uluran tangan dari berbagai pihak terutama pemerintah baik pusat, provinsi maupun daerah, Kusniah juga merupakan icon yang dulu membawa nama daerah dalam dunia kesenian,” ungkapnya kepada wartawan (22/6).

Hal senada di ungkapkan salah satu penggiat komunitas seribu dollar seribu berkah, Agus Hariyadi.

“kami berharap ada dermawan dan pemerintah yang memberikan bantuan kepada sang legendaris gandrung ini agar dapat melangsungkan kehidupan yang layak dan bisa meneruskan usaha jamunya untuk menopang kehidupan,” harapnya. (*kin).

Komentar

comments