Mbak Tutut Ungkap Kematian Ibu Tien Soeharto

Faktanews.co.id.–Mbak Tutut bercerita kejadian tak pernak ia lupakan 24 tahun lalu, Pada 28 April 1996 itu, dirinya sedang berada diluar negeri (Eropa) sebagai presiden donor darah dunia.

Mbak Tutut saat itu sedang memimpin sidang organisasi kemanusiaan tersebut tiba-tiba diinformasi kematian ibunya yang juga Ibu Negara Indonesia Raden Ayu Siti Hartinah (ibu Tien Soeharto).

“Saya sedang bertugas memimpin sidang organisasi donor darah dunia (di Prancis dan Kemudian di London),” kata wanita bernama Siti Hardianti Rukmana yang juga mantan peranan wanita itu.

Mendengar ibunya lelayu (wafat) mbak Tutut terkejut karena saat dia berangkat, Ibu Tien masih sehat.

Saat itu Mbak Tutut langsung kembali ke Jakarta dalam suasana berkabung dia merasa perjalanan ke Jakarta sangatlah lama mengingat dirinya ingin segera tiba ditanah melihat wajah ibunya yang terakhir sebelum di kebumikan.

“Itulah perjalanan paling lama yang saya rasakan selama saya bepergian,” katanya.

Mbak Tutut menceritakan, saat itu dia mendapatkan Penerbangan yang saya  SQ, dan harus berhenti di Singapore.

“Untuk mempercepat waktu, suami saya menjemput saya di Singapore. Kami langsung menuju ke Solo. Jenazah ibu sudah ada disana,”ungkapnya.

Dalam akun media sosial (Instagram) dan di website pribadinya, mbak tutut menceritakan ketika sampai di Tanah air dia melihat wajah sang ayah Presiden Soeharto tak bisa menyembunyikan kesedihan mendalam.

“Saya menemani bapak satu mobil. Di dalam perjalanan menuju makam,”ungkap Tutut.

Dalam perjalanan dari Ndalem Kalitan Solo (rumah Ibu Tien di Solo), menuju tempat pemakaman di Astana Giri Bangun Karanganyar, Jawa Tengah Mbak Tutut mendapatkan langsung cerita dari ayahnya presiden Soeharto tentang kematian ibunya.

Tampilan bersahaja sopan santun Ibu Tien Soeharto dan keluarga dilandasi kepribadian muasal dari keluarga Keraton Solo.

Ibu Tien Soeharto mempunyai nama lengkap Raden Ayu Siti Hartinah dan merupakan anak kedua pasangan KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo.

“Ibumu pagi itu, mengeluh,”kata tutut mengisahkan kalimat awal keluar dari mulut sang ayah.

“Bapak, aku kok susah nafas yo,”Pak Harto menirukan keluhan ibu Tien.

“Bapak tanya mana yang sakit bu,”

Ibumu bilang “Ora ono sing loro (tidak ada yang sakit), mung susah nafas pak (hanya susah nafas pak),”

Mbak Tutut memastikan apa sakit yang dirasakan sang Ibu.

“Ibu hanya mengatakan susah nafas,Ibumu bilang “Ora ono sing loro (tidak ada yang sakit), mung susah nafas pak (hanya susah nafas pak),” jelas Soeharto.

Soeharto menceritakan, Ibu Tien mengeluh sesak napas sekitar pukul 03:00 dini hari.

“Berarti setelah bapak sholat tahajut,” ungkap Mbak Tutut.

Selanjutnya Ibu Tien Soeharto sempat segera dibawa ke rumah sakit,  dalam perjalanan ibu Tien sudah tidak sadar.

Bapak bertanya lagi, “Dadanya sakit nggak bu”

Ibumu berbisik “ Ora ono (tidak ada),”
Bapak rebahkan ibu dengan bantal yang agak tinggi, karena ibu susah nafasnya.

Soeharto selanjutnya memanggil ajudan untuk segera menyiapkan ambulans. Ibu Tien harus dibawa ke rumah sakit segera.

Dalam tulisan nya diMedsos pribadinya Tutut dan keluarga meyakini kejadian sesak nafas ibunya merupakan bagian dari kehendak Tuhan dalam kisah akhir hidup Ibu Tien.

“Demi Allah, itu yang terjadi, setelah diberikan pertolongan, Allah berkehendak lain sehingga Ibu Tien meninggal dunia,”ungkap Tutut.

Oleh karenanya Mbak Tutut merasa heran, di kemudian hari muncul cerita dan berita penyebab kematian Ibu Tien Soeharto justru ada yang mendramatisir seakan-akan Ibu Tien meninggal karena tembakan Tommy Soeharto atau Bambang Soeharto.

“Saya mendengar berita tersebar, bahwa ibu wafat karena tertembak oleh adik-adik saya,” ujar Mbak Tutut

Ada yang membumbui pula dengan spekulasi seakan-akan tembakan itu berkaitan keributan dua anak lelakinya, Hutomo Mandala Putra (Tommy) dan Bambang Trihatmojo.

“Saya heran, siapa manusia yang tega menyebarkan berita keji tersebut. Tadinya saya diamkan saja. Tapi rasanya berita itu semakin diulang-ulang ceritanya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” ujar Mbak Tutut seperti dalam tulisan yang dimuat di website khusus, akun instagram maupun Twitternya.

Lebih jauh, dalam website pribadinya Tutut mengucapkan terima kasih, atas doa yang selalu dilantunkan untuk Ibu dan Bapak kami tercinta. Semoga Allah SWT, membalas dengan berlipat ganda… Amien.

Terima kasih kami haturkan ya Allah, telah memilihkan kami terlahir dari seorang ibu yang baik, bijaksana, hormat pada orang tua dan suami dan sesepuh, penuh kasih sayang, peduli pada yang berkekurangan, membantu yang membutuhkan, memberi pada yang tidak berkecukupan.

“Ya Allah ampuni dosa ibuku…Maafkan segala kesalahannya…Terimalah semua amal ibadahnya…Tempatkan ibuku di sorga-Mu yang terindah, bersama Bapak dan bersama orang-orang yang datang sebelum kami, yang beriman dan Engkau sayangi,”ungkap Tutut.(Kin).

Komentar

comments