Kuatir Legalitas Ijazah, Ketua Yapenas Target Satukan Lembaga Pendidikan Gunakan Nama 17 Agustus

Faktanews.co.id-(Banyuwangi)- Ketua umum Yayasan Pendidikan Nasional (Yapenas) 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Misnadi SH.MH Kembali mengungkapkan, perjalanan Yapenas sejak lama terus dilanda berbagai intrik-intrik kepentingan seseorang atau kelompok dengan mengatas namakan lembaga Pendidikan 17 Agustus sehingga seakan-akan Yapenas bubar berganti Perpenas.

Dalam kesempatan halal bi halal keluarga besar Yayasan Pendidikan Nasional (Yapenas) 17 Agustus 1945 Banyuwangi, di Aula Hotel Ikhtiyar Surya Rabu sore, (27/7/2016), Misnadi mengatakan, Awalnya ada pihak (Waridjan cs) mendirikan Yapenas baru dengan menggunakan akta no 11 yang sebenarnya sudah tak terpakai karena akte no 11 Yapenas sudah berubah bersamaan dengan berganti periode kepengurusan menjadi akte no 9 yang diketuai AS.Yono.

Lucunya lagi, akte 11 itu dirubah kembali oleh Waridjan Cs menjadi akte no 1. lalu YAPENAS bentukan Waridjan yang dibentuk dari akte yang sudah tidak berlaku tersebut, juga dibubarkan sendiri oleh Waridjan.

Halal bi Halal Yapenas di Hotel Ikhtiyar Surya

Halal bi Halal Yapenas di Hotel Ikhtiyar Surya (27/7/2016).

Ternyata pembubaran Yapenas bentukan sendiri (Waridjan cs) itu bermaksud ditindaklanjuti oleh Waridjan cs, membentuk Perkumpulan Pendidikan Nasional (Perpenas) dengan menggunakan embel-embel 17 Agustus 1945.

“Selanjutnya aset Yapenas yang seakan menjadi milik Yapenas bentukannya dia (Waridjan cs) diserahkan kepada Perpenas yang dia sendiri (Waridjan) juga sebagai ketuanya,” katanya

Lebih jauh kata Misnadi, semisal ada pembubaran yayasan, tentu harus dilakukan tahapan-tahapan dan aset tidak bisa dipindah tangankan kepada siapapun atau diwariskan, namun harus di serahkan kepada pemerintah.

“Seperti dagelan, mungkin pak Waridjan dulu terhipnotis, namun sekarang dia menyadari dan sekarang dia ada dihadapan kita,” kata Misnadi.

Yang terpenting, fakta yang ada menyatakan karena sebenarnya Yapenas yang sah tidak bubar maka aset –aset pendidikan bernama 17 Agustus 1945 tersebut juga tercatat masih milik Yapenas.

“Semua aset 17 Agustus 1945 Banyuwangi dari TK, SMA/SMK sampai perguruan tinggi (Untag) Banyuwangi hingga sekarang di Menkumham atau Dikti atas nama Yapenas.

Pada sisi lain, di hadapan undangan yang hadir, Misnadi mengakui pula, bahwa Yapenas yang saat itu diketuai oleh AS.Yono sempat terjadi konflik internal hingga proses hukum terkait ditunjuknya Kuntjoro selaku rektor.

Namun hingga proses hukum di MA dan sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (incraht) penunjukan rektor tersebut, dibatalkan karena tidak melibatkan Yapenas yang sah.

“lho kok sekarang diopinikan terbalik, seakan-akan Yapenas yang kalah, tentu itu menyesatkan. karena berkaitan nasib keabsahan ijazah murid dan mahasiswa, biar tidak keblinger, mungkin ada siapa saja yang mau minta putusan dari MA itu, bisa minta kepada saya,” kata Misnadi yang juga ketua Perhimpunan Advokad Indonesia (Peradi) Banyuwangi.

Dalam akhir sambutannya dihadapan para undangan yang terdiri dari dosen guru, dosen, mantan Rektor Untag 17 agustus 1945, aktivis kemahasiswaan, serta beberapa pengurus NU Banyuwangi, Misnadi mengatakan, saat dia menjadi ketua Yapenas, dia berupaya menjadikan Yapenas muara tempat pengabdian pihak-pihak yang menggunakan nama lembaga pendidikan 17 Agustus di Banyuwangi.

Di jelaskan dari 16 unit pendidikan 17 Agustus 1945 Banyuwangi, kini sudah 14 kembali ke Yapenas.

“target saya bagaimana pak Sugihartoyo dkk (Perpenas) memahami itu, sehingga kedepan kita bersatu mengabdi bersama-sama memajukan pendidikan di Banyuwangi,” janji Misnadi disambut tepuk tangan para undangan.(kin).

Komentar

comments