Korupsi Bedah Rumah Jadi Prioritas, Dua Tersangka & Saksi Terus Diperiksa

Kasipidsus Kejari Banyuwangi Arief Abdillah SH

Kasipidsus Kejari Banyuwangi Arief Abdillah SH.

Tsk Koruspi Masih Belum Ditahan. Saksi dari Jakarta, Konsultan dan Kemenpera.
Faktanews.co.id (Banyuwangi)- Meski belum ada perkembangan signifikan proses hukum kasus dugaan korupsi bedah rumah di Banyuwangi, dua tersangka masih bisa menghirup udara bebas dan belum ada tersangka baru.

Namun sejatinya kejaksaan masih tetap mengumpulkan keterangan – keterangan, pemanggilan permintaan keterangan dari saksi tetap dilakukan.

Deretan nama Saksi diantaranya Mantan Kepala Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Banyuwangi kini Sekwan DPRD Banyuwangi Peni Handayani, Misri pemilik toko (UD) Pondok Tresno selaku penyedia bahan material bangunan.

Kaspidsus Kejari Banyuwangi Arief Abdillah mengatakan, kasus dugaan korupsi prioritas penanganan. hingga kini Kejari Banyuwangi masih terus melakukan pengembangan, sejumlah keterangan saksi-saksi masih diperlukan untuk mengungkap pihak-pihak yang terlibat.

Konsultan dari Jakarta serta dari Kementrian perumahan rakyat juga sudah diminta keterangan. “Kemarin (Kamis) saksi Misri (pemilik toko) kita panggil untuk dminta keterangan,” Kata Arief. (jum’at 30 januari 2014)

Seperti diketahui, Dugaan korupsi bedah rumah di Kelurahan Banjarsari kecamatan Glagah, Kejaksaan Negeri Banyuwangi telah menetapkan dua tersangka atas nama Sulihono selaku pendampingan masyarakat Kelurahan Banjarsari dan Anggrid, pada Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Banyuwangi.

Kelurahan Banjarsari Kecamatan Glagah Banyuwangi pada program bedah rumah APBN tahun 2013 di Kelurahan Banjarsari senilai 945 juta untuk 146 unit rumah dengan masing-masing mendapat anggaran Rp. 7,5 juta. Dana tersebut dibagi dalam pencairan 2 tahap termyn.

Dana tersebut ditransfer langsung ke rekening masing-masing KK penerima. Dana tersebut mestinya harus langsung diteruskan kepada Misri pemilik toko (UD) Pondok Tresno selaku penyedia bahan material bangunan.

Hasil investigasi di lapangan ternyata tersangka suliyono pelaku hanya membayar dengan rekening koran sekitar Rp. 162 juta.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat hanya menerima Semen 3 sak, pasir 1 pik up batako 50 biji. Keterkaitan Angrid pada kasus tersebut menyusul dugaan yang bersangkutan menerima dana namun ketika program tersebut menjadi kasus hukum dana tersebut dikembalikan. (makin)

Komentar

comments

Tagged with