Kerja Outsoursing “Perbudakan Modern” oleh Pengusaha

Hartono-Fadal-SH.

Hartono-Fadal-SH.

Faktanews.co.id.(Banyuwangi)- Kontrak kerja/perjanjian kerja adalah suatu perjanjian antara perusahaan dan karyawan, kontrak kerja sesuai waktu yang telah di sepakati.

Jumlah kelulusan sekolah tiap tahun yang berkonsekwensi jumlah pencari kerja dan pengangguran bertambah menjadikan banyak pengusaha pemilik perusahan leluasa mencari atau merekrut karyawan, dan status kerja outsourcing merupakan jurus jitu pengusaha.

Outsoursing tentu saja menguntungkan perusahaan sebaliknya merugikan karyawan. Dengan sistem kerja yang cenderung dirasakan sebagai “perbudakan modern” perusahaan tidak pusing menghitung tunjangan, pesangon dan biaya lainnya, Jaminan masa depan bahkan memecat tanpa memberi pesangon terhadap ex karyawan.

Kabid hub industrial dan pengawasan tenaga kerja kab Banyuwangi Drs Hartono fadal SH mengatakan, hanya ada 5 macam pekerjaan yang dapat di outsoursing antaralain security, catering, driver karyawan, klining servis dan penunjang pekerjaaan pertambangan dan perminyakan.

Jenis pekerjaan yang bisa di kontrakkan antara lain: prouduk baru dan kerja sifatnya sementara. Dalam hal outsourcing juga bisa memakai pihak ketiga yang merger dengan perusahaan. Dalam urusan outsoursing sudah di atur dalam Undang-Undang No 13 tahun 2003 tentang ketenaga kerajaan.

Perjanjian kontrak kerja harus lapor di daftar Kedinas yang terkait. Dan perusahaan wajib memberikan gaji sesuai upah minimum rigional(UMR).

“laporan pencatatatan itu harus dilakukan perusahaan,hal ini di kemudian hari mungkin terjadi konflik antar kedua belah pihak kita bisa menangani, untuk gaji UMR sesuai letak perusahan tersebut.”katanya.(yayak/makin)

Komentar

comments