Keraton Surakarta Kirab 9 Kebo Bule dan 9 Pusaka

Kebo Bule. Ritual Keraton Surakarta

                           Kebo Bule. Ritual Keraton Surakarta.(14/10)

Faktanews.co.id.(Solo)- Sebuah Ritual kirab pusaka dilakukan Keraton Kasunanan Surakarta dalam memperingati 1 Suro yang jatuh pada 14 Oktober dalam penanggalan Jawa.

Songo (Sembilan) pusaka berupa tombak dan lainnya diarak mengelilingi tembok bagian luar keraton Surakarta. Kirab dipimpin cucuk lampah (pimpinan barisan) 9 kebo bule keturunan kiai Slamet.

Tengah malam, atau sekitar pukul 00.00 WIB, 9 kebo bule mulai muncul di depan Kori Kamandungan (depan pintu utama keraton). Usai prosesi upacara adat di dalam keraton, ratusan abdi dalem memulai kirab.

Hening dan bau dupa saat kirab dimulai menambah suasana semakin terasa sakral. Kirab dimulai dari depan keraton menuju ringin kurung Alun-alun utara kemudian ke Gladag, Jalan Mator Sunaryo, Kapten Mulyadi, Veteran, Yos Sudarso, Slamet Riyadi selanjutnya kembali ke keraton Kasunanan Surakarta.

Wakil Pengageng Sasono Wilopo Keraton Solo, Kanjeng Pangeran (KP) Winarna Kusumo mengatakan kirab ini, juga untuk menyambut tahun baru dalam penanggalan Jawa yang disebut ‘Tahun Sultan Agungan’ yang jatuh pada 1 Suro 1949 atau 14 Oktober 2015.

Dalam kirab tersebut, kata dia, seluruh peserta memang dilarang berbicara atau melakukan tapa bisu. Mereka diminta untuk berdoa dan melakukan introspeksi diri selama perjalanan.

“Tidak semua ikut kirab, sebagian kerabat dan abdi dalem tetap tinggal di keraton untuk melakukan salat hajad dan wiridan semalam suntuk. Sebelum kirab mulai, pukul 21.00 WIB diadakan acara ‘dhukutan’ atau tahlilan dan ruwatan,” katanya.

Ribuan warga yang datang sejak sore sangat antusias menyambut munculnya kerbau yang dipercaya sebagian masyarakat Jawa sebagai binatang kesayangan raja yang keramat.

Bagi warga jika mendapatkan kotoran kerbau keturunan kiai Slamet tersebut akan membawa rezeki. Bahkan sebagian pedagang juga masih percaya jika dagangannya dimakan kebo bule, maka akan mendapatkan berkah yang melimpah. “Siapa tahu kami dapat berkahnya,” kata makmun warga gunung kidul. (yaf/ed/ham)

Komentar

comments