Imunisasi Difteri Penting Untuk Usia 1-19 Tahun, Pengawasan Layanan Tetap Dilakukan

Imunisasi Difteri Penting Untuk Usia 1-19 Tahun, Pengawasan Layanan Tetap Dilakukan

Faktanews.co.id.- (Banyuwangi)- Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Banyuwangi, dr Widji Lestariono MM.Kes menjelaskan, informasi merupakan bagian dari kontrol masyarakat dalam program pemerintah guna layanan menjadi lebih baik

Oleh karenanya setiap informasi selalu mendapatkan tempat strategis setiap langkah kebijakan Dinas Kesehatan untuk ditindak lanjuti dengan mencari keterangan berbagai pihak serta sarana lain sebelum mencapai kesimpulan.

Hal ini disampaikan Dr Widji Lestari  (Rio) berkaitan program Imunisasi Difteri yang kini berjalan di Banyuwangi.

Menurutnya, Imunisasi difteri merupakan kebutuhan kesehatan anak-anak usia 1 – 19 tahun.

Dalam mencegah difteri, anak biasanya akan diberikan 3 jenis vaksin berbeda secara bertahap.

Tiga jenis vaksin tersebut adalah vaksin DPT-HB-HiB untuk anak usia 1 sampai dengan  5 tahun (bayi di bawah 1 tahun dan anak usia 18 bulan), vaksin DT untuk usia 5 sampai dengan  7 tahun (seusia anak kelas 1SD), sedangkan vaksin Td usia 7 sampai dengan 19 tahun.

“anak-anak kita usia 1 sampai dengan 19 tahun sangat membutuhkan itu,” kata Rio kepada faktanews.co.id. (20/2).

Ditanya antisipasi pengawasan tenaga layanan kesehatan agar tidak memunculkan kontraproduktif maupun keraguan masyarakat dalam mengikuti program Imunisasi Difteri, Rio mengatakan, pengawasan tetap dilakukan mulai dari sarana pendukung hingga pelaku layanan kesehatan.

Menyusul sempat dikabarkan adanya korban kasus pasien meninggal akibat Imunisasi difteri, Atalla Askah (2,3) asal Desa Ketapang Rt 03, RW 11 Kec Kalipuro Kabupaten Banyuwangi.

Seperti diketahui, sebelum meninggal di RSUD Blambangan,  Jum’at (16/2/2018) di Atalla Askha sebelumnya Sabtu (10/2/2018) di suntik difteri Posyandu kampungnya Desa Ketapamg, sejak mendapat suntikan itu badannya langsung demam dan mencret.

Berbagai dugaan muncul, Bidan tidak melakukan pengecekan kesehatan pasien lebih dulu, dan penggunaan vaksin sudah rusak dari menyusul bidan yang menyuntikkan vaksin bekerja Puskesmas Klatak (bukan bidan dari Puskesmas Ketapang).

Karena suhu panasnya tidak turun, pada Kamis (15/2), oleh keluarganya Atalla dibawa ke RSUD Blambangan. Sehari kemudian Pada Jumat (16/2) sekitar pukul 13.30 WIb, Atalla meninggal dunia.

“begitu kita mendapat informasi kita kita ikut bela sungkawa kita datangi keluarganya (Atalla), kita lakukan cross chek kesehatan tempat Atalla terakhir ditangani Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blambangan, kita panggil dan minta keterangan bidan puskesmas yang menangani waktu dan juga dokter puskesnya tempat dilakukan Imunisasi difteri, ini kita lakukan juga kepada yang lain,” jelas Rio.

Menurut Rio dari hasil cross chek penanganan dan presedur layanan dan rekam medis Attala sudah lengkap ditangan pihaknya untuk menjelaskan. “kita sudah lakukan semuanya, kita sudah datangi dan minta medis tempat terakhir dirawat (RSUD Blambangan) ternyata Attala memang meninggal karena penyakit Typus yang dideritanya,” jelasnya. (kin).

Komentar

comments

Tagged with