Hoax Berbuntut Rusuh Papua, Mak Susi Tersangka Kasus Rasisme Ditahan Polda

Hoax Berbuntut Rusuh Papua, Mak Susi Tersangka Kasus Rasisme Ditahan Polda

Faktanews.co.id.–Polda Jawa Timur menahan tersangka kasus dugaan penyebaran informasi hoax, diskriminasi, dan provokasi di Asrama Mahasiswa Papua (AMP) Surabaya, Tri Susanti selama satu kali 24 jam.

Satu tersangka lain yang ditahan dalam kasus yang sama bernama Samsul Arifin, pria ini tercatat ASN di jajaran Kecamatan di lingkungan Kecamatan Tambaksari.

Seperti diketahui aksi itu dijadikan pemicu konflik rasisme dan serangkaian rusuh di Papua dan Papua Barat yang dipicu aksi rasisme di Surabaya

Kuasa Hukum Tri Susanti, Sahid, usai pemeriksaan di gedung Subdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim, Selasa (3/9/2019) dini hari mengatakan penahanan kliennya terhitunh sejak pukul 00.00 WIB.

Susi sebagai tersangka dan dijerat Pasal 45A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 UU 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 4 UU 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Rasis dan Etnis dan/atau Pasal 160 KUHP dan/atau Pasal 14 ayat 1 dan/atau ayat 2 dan/atau Pasal 15 KUHP.

Susi ditahan setelah diminta keterangannya dalam pemeriksaan yang digelar selama 12 jam dengan dicecar 37 pertanyaan oleh penyidik.

“Ya, sementara Bu Susi, ditahan untuk satu kali 24 jam,” ujarnya.

Ia mengaku dirinya dan tim kuasa hukum merasa kecewa Susi ditahan walau hanya satu kali 24 jam.

Menurut dia, hal ini tidak berdasarkan syarat penahanan yang diatur Pasal 21 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

“Ya, sebenarnya saya sebagai tim kuasa hukum ini sangat kecewa karena sudah jelas dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 itu kan tidak harus ditahan,” katanya.

Selain itu, dia juga menyebut pasal yang dikenakan Susi pun tidak memenuhi syarat penahanan karena ancamannya masih di bawah lima tahun penjara.

Sahid juga menegaskan kliennya tidak berpotensi menghilangkan barang bukti, melarikan diri, apalagi berbuat tindak pidana lainnya sehingga seharusnya polisi tidak memiliki alasan menahan kliennya.

“Jadi unsur subjektifnya sudah tidak terpenuhi, kecuali dibuka dan ada kekhawatiran dari pihak kepolisian (Susi) akan melarikan diri atau menghilangkan barang bukti atau diduga ada indikasi melakukan tindak pidana, padahal tidak ada,” kata dia.

Sementara itu, tersangka kuasa hukum Samsul Arifin, Ari Hans Simaela mengakui, kliennya mengeluarkan ucapan cenderung bernada rasis namun ucapan itu terjadi secara spontan.

“Tadi klien kami SA menitip pesan bahwa dia tidak ada maksud melontarkan pernyataan yang menghina atau mendiskreditkan suku lain,” kata Ari Hans di Halaman Gedung Ditreskrimsus Mapolda Jatim, Selasa (3/9/2019) dini hari.

Wakapolda Jatim Brigjen Pol Toni Harmanto selaku ketua tim penyidik mengatakan, Penahanan itu sendiri juga berdasarkan peraturan perundang-undangan, dilakukan dengan pertimbangan normatif, yakni dikhawatirkan melarikan diri, menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi perbuatan.

“Penahanan itu sebenarnya yang paling utama adalah untuk memudahkan proses penyidikan (penyusunan berita acara pemeriksaan) lanjutan agar perkaranya dapat segera dilimpahkan ke Kejaksaan,” ujarnya, Selasa (3/9/2019) sore.(bes/hay).

Komentar

comments

Tagged with