FRB Soroti Hutang Pemerintah Kepada Rekanan dan Defisit Anggaran

FRB Soroti Hutang Pemerintah Kepada Rekanan dan Defisit Anggaran

Faktanews.co.id.-(Banyuwangi)-Minimnya pencapaian (realisasi) PAD dan defisit Anggaran Kabupaten Banyuwangi membuktikan lemahnya kinerja eksekutif.

Ini disampaikan Ketua Forum Rakyat Banyuwangi Peduli APBD saat mendatangi gedung DPRD untuk mengajukan permohonan hearing,(17/12/2018).

Menurut Amrulloh dalam hal ini, Kepala Badan Pendapatan Daerah (BAPPEDA) & Kepala Dinas Penerimaan & Pengelolaan Keuangan Daerah (DPPKAD) bertanggungjawab.

“Kalau memang Kepala BAPEDA & DPPKAD tidak mampu memenuhi target PAD sebaiknya mundur” Tegas Amrullah.

Lebih jauh dijelaskan, pemerintahan (Banyuwangi) yang kini mengalami defisit dalam bahasa awam masyarakat hal itu bisa dikatakan sebenarnya, kabupaten Banyuwangi diambang kebangkrutan.

Sementara itu, M Yunus Wahyudi mengatakan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi saat ini mempunyai hutang (belum bisa membayar) ratusan milyar kepada para pelaku Penyediaan Barang dan Jasa serta para kontraktor yang telah mengerjakan proyek pada tahun 2018.

“Lo kok Percuma Kabupaten Banyuwangi mendapatkan berbagai penghargaan dan mendapatkan WTP dari BPKP,” ujar aktivis yang vokal ini.

Masih terkait defisit Anggaran Kabupaten Banyuwangi, aktivis M Helmi Rosyadi mempertanyakan hasil pungutan maupun pajak dibanyuwangi dilapangan menunjukkan kenaikan namun disisi lain pemwrintah mwngalami defisit.

“Selama ini tidak hanya restoran yang dipungut pajak namun warung milik Mbok Nah dan Mbok Tun juga ditarik pajak, PBB setiap tahun naik, BPHTB juga sangat mahal tapi target PAD kenapa tidak maksimal.”katanya.

yg juga Ketua Gerakan Buruh dan Rakyat Anti Korupsi (GEBRAK) mendesak dilakukannya audit forensik atas defisit anggaran & tidak tercapainya target PAD.

“Selama ini tidak hanya restoran yang dipungut pajak namun warung milik Mbok Nah dan Mbok Tun juga ditarik pajak, PBB setiap tahun naik, BPHTB juga sangat mahal tapi target PAD kenapa tidak maksimal.

Menurutnya, ini salah satunya karena banyaknya anggaran untuk kegiatan Banyuwangi Festival dan Hibah.

“Hal yang tidak terlalu penting itu merupa bentuk pemborosan anggaran, harusnya saat ini kita berhemat, sebaiknya agenda Banyuwangi Festival dikurangi dan Hibah ditiadakan” pungkasnya. (kin).

Komentar

comments