Eksekusi Mati Enam Terpidana Narkotika, Di Tengah Kontroversi Cakapolri Tersangka

Rani Andriani Saat di Putus Hukuman Mati.(jppn)
Faktanews.co.id.(Nasional)- Aktivis anti hukuman mati mengatakan, hukuman mati sama sekali tidak menimbulkan efek jera. Justru Sebaliknya, itu dinilai domain politik pemerintah karena grasi yang di tolak dan pelaksanaan eksekusi mati ditengah sorotan kontroversi calon Kapolri yang tersangka kasus korupsi.

Lebih jauh ia menuding eksekusi yang dibarengi wacana “Indonesia Darurat Narkotika” hanya sekadar cara pemerintah untuk menyembunyikan kegagalan mereka dalam mengatasi peredaran gelap narkotika.

Nyatanya mulai orang yang tertangkap, dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi hanyalah para pengedar, kurir atau orang yang dijebak, dan bukan para gembong.

“Di laporan BNN setiap tahunnya dari tahun 2009 sampai sekarang terus naik. Jumlah barang buktinya terus naik. Jumlah pecandunya juga naik. Hukuman mati terus dijatuhkan, eksekusi dilakukan, tapi kejahatan narkotika tak kunjung turun.”katanya Ricky Gunawan dari LBH Masyarakat menepis

Lebih jauh, pegiat HAM menuding, eksekusi enam terpidana mati kasus narkotika tersebut, hanyalah manuver pemerintah yang sedang disorot terkait pencalonan tersangka kasus korupsi Budi Gunawan sebagai Kapolri.
Sementara itu, Direktur Eksekutif lembaga pemantau HAM, Imparsial, Poengky Indarti menyatakan.

“Hukuman mati merupakan bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) karena tidak menghormati hak untuk hidup. Bahwa tidak seorang pun boleh mencabut nyawa orang lain, negara sekalipun,” kata Poengky.

Dia mengingatkan, hukuman mati di Indonesia adalah peninggalan sistem hukum kolonial Belanda tahun 1918. Dan ini bertentangan selain dengan HAM, melainkan sistem hukum modern. “Sistem hukum modern, penghukuman harus bersikap koreksional, untuk memperbaiki dan bukan untuk balas dendam.”katanya.

Seperti diketahui 18 Januari 2015 dini hari kemarin pemerintah RI. Melalui keJaksaan Agung melaksanakan mengumumkan akan dilaksanakannya hukuman mati terhadap Marco Archer Cardoso Mareira (53, warga negara Brasil), Daniel Enemua (38, WN Nigeria,) Ang Kim Soei (62, Belanda), Namaona Dennis (48, Malawi) Tran Thi Bich Hanh (37, WN Vietnam) dan Rani Andriani atau Melisa Aprilia(WNI).

Sementara itu Jaksa Agung Muhammad Prasetyo berdalih eksekusi mati terpidana narkoba yang sudah ditolak presiden itu, semata-mata untuk melindungi kehidupan bangsa dari bahaya narkotika. dan Indonesia tidak main-main dalam memerangi penyalahgunaan narkotika.(mer/hay)

Komentar

comments