Digagalkan, Nonton Film Prahara Tanah Bongkoran Pindah Tempat

Demo Petani Bongkoran

Demo Petani Bongkoran, Wongsorejo

Faktanews.co.id. (Banyuwangi)- Meski berpindah tempat kaibat untervensi aparat dan sejumlah pihak, Diskusi tentang nasib petani tanah bongkoran Wongsorejo akhirnya terlaksana tanggal 7-8 November 2015 di kompleks Kantor Radio Fajar.

Sebelumnya, Aji Jember bersama dengan Layar Kemisan, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Untag, dan beberapa organisasi lain berecana menggelar diskusi film “Prahara Tanah Bongkoran”.

Namun, sayang sekali, acara yang seharusnya digelar di Kampus Universitas Tujuh Belas Agustus Banyuwangi ini harus batal setelah mendapat intervensi langsung dari pihak Kepolisian Resort Banyuwangi dan Pemkab Banyuwangi. 5 orang intel dan 1 orang dari Bakesbangpol menyambangi kampus Untag pada tanggal 5 November sore hari.

“Tapi diluar dugaan aja sih,” sesal Ika Ningtyas, salah satu panitia penyelenggara sekaligus Ketua AJI Jember. Wanita berkerudung ini menyesalkan pembatalan acara yang diselenggarakannya, pasalnya panitia sudah mendapatkan beberapa anggota yang mendaftar untuk mengikuti acara nonton bareng ini.

Setelah mendapat intervensi dari Polres dan Pemkab Banyuwangi, para panitia akhirnya mengalihkan acara nonton bareng ini ke Radio Fajar, dengan jadwal yang tidak berubah. Ika sempat kaget dengan animo penonton yang datang. Dikatakan Ika, sekitar 100 orang hadir.

“saya gak tahu mereka dapat undangan dari mana, padahal saya ngundang gak lebih dari 20 orang,” katanya saat ditemui di ruang wartawan di Gedung DPRD Banyuwangi.

Film yang diproduksi oleh mahasiswa pecinta film, Layar Kemisan, ini bercerita tentang konflik tanah antara pemerintah dengan sekitar 287 Kepala Keluarga di Desa Bongkoran.

“Tanah yang mereka tinggali sejak 1950-an itu, akan dijadikan kawasan industri melalui HGB (Hak Guna Bangunan) yang diberikan pemerintah kepada PT. Wongsorejo,” tulis Koalisi Masyarakat Sipil untuk Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi dalam pernyataan sikapnya (10/11).

Para petani setempat melalui OPWB (Organisasi Petani Wongsorejo Banyuwangi), saat ini masih memperjuangkan tanah yang telah diklaim sebagai milik negara ini sejak tahun 1999, tahun dimana OPWB didirikan.

Di atas tanah sekitar 220 hektar itulah para petani OPWB menanam tanaman jagung dan cabai. Saat ini mereka terancam kehilangan mata pencahariannya sebagai petani palawija. (gusti)

Komentar

comments

Tagged with