Bersikap Netral, GARAB Milineal Soroti Politik Dinasti dan Akibat Politik Uang

Faktanews.co.id-(Banyuwangi)– Politik dinasti selalu berkaitan kekuasan yang erat dengan cenderung praktik politik uang dan mereka yang memiliki sumber dana kuat (banyak) dialah yang menjadi pemenang kekuasaan.

Ini disampaikan Koordinator kaum milineal yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Banyuwangi (GARAB) Bondan Madani terkait dinamika politik Banyuwangi Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 9 Desember mendatang.

Bondan juga menilai politik dinasti akan mengebiri demokrasi yang saat ini didengung-dengungkan.

Sebagai konsekwensi politik dinasti dan kuatnya praktik politik uang yang mengiringi, kata Bondan ini akan menjadi penyubur kebodohan intelektual politik masyarakat.

“Politik Dinasti adalah penyubur kebodohan intelektual dan politik Banyuwangi,” Katanya.Minggu (12/07/20).

Aktivis mahasiswa yang juga mantan pengurus HMI Banyuwangi ini menambahkan, dalam upaya menghidupkan dan menumbuh kembangkan demokrasi di Banyuwangi, pihaknya mengajak semua elemen masyarakat untuk terus mencermati dan menyikapi secara cerdas fenomena politik Dinasti dan dampaknya.

Ini sangat penting dalam menyikapi dinamika politik dan pergerakan para kandidat serta tim pemenangan di Banyuwangi agar tetap dalam dalam koridor politik yang beretika dan berkemajuan.

”Kami sepakat untuk  membentuk koordinator di tingkat kecamatan. Secepatnya kami akan melakukan road show  ke  kampus-kampus, Pondok Pesantren (Ponpes), Ormas Kepemudaan, Karangtaruna dan semua komunitas yang ada di Banyuwangi. Kebetulan semua yang tergabung ini berstatus anak muda,” ujar Bondan.

Sementara itu Koordinator Partisipasi Publik Perempuan PPP GARAB Banyuwangi, Puji AS mengatakan. Kolompok yang dibuat bersama dengan aktivis milineal ini bersikap politik netral dan tidak dalam dukung mendukung salah satu kandidat peserta pilbub Banyuwangi

”Kami semua bukan pengurus atau kader partai politik. Sebagai kelompok milenial hanya ingin bagaimana demokrasi di Banyuwangi tumbuh dan berkembang, partisipatif, beretika dan santun, Kita sebagai milenial hanya ingin bagaimana Banyuwangi akan lebih maju, demokrasi berkembang.

Senada dengan bondan bahwa politik dinasti dan kuatnya praktik politik uang yang mengiringi akan menjadi penyubur kebodohan intelektual politik masyarakat, kata aktivis mahasiswi ini, Politik dinasti biasanya dimulai dengan penyebaran untuk menguasai partai politik.

“Maka penjaringan bakal ‘Calon Kepala Daerah’ tidak akan maksimal di internal partai, dan akhirnya tidak akan ada kesempatan seperti millenial tampil, Ayo jadikan Banyuwangi Destinasi, bukan Dinasti,” Urainya.

Sebelumnya, diawali Partai Nasdem dan disusul PDI Perjuangan sudah mengeluarkan rekomendasi mengusung Ipuk Fiestandani Istri Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas (AAA) dinilai sebagai politik dinasti.

Belakangan kekuatan dan kepiawaian politik Abdullah Azwar Anas (AAA) dimungkinkan akan mampu merangkul partai lain masuk dalam gerbong pengusung istrinya sebagai Cabup, sehingga kompetisi Pilbub Banyuwangi tidak bergairah seperti Pilbup sebelumnya. (mi/kin).

Komentar

comments