Batam Kota Industri Dan Kota Berbagai Arena Judi

Batam Kota Industri Dan Kota Berbagai Arena Judi

Faktanews.co.id.- Sungguh sangat bertolak belakang dengan visi kota Batam yang dahulu telah dinobatkan sebagai Bandar Dunia Yang Madani yang berarti adalah kota yang berlandaskan keimanan yang hakiki, namun sekarang justru dipenuhi oleh sarana judi yang sangat bertentangan dengan prinsip “MADANI” tersebut.

Batam yang semula selain dikenal dengan kawasan kota Industri, alih kapal dan teknologi nampaknya masih juga tetap menjadi kawasan perjudian.

Perjudian seakan bukan hal yang tabu disini, keresahan masyarakat terhadap maraknya perjudian sepertinya terabaikan.

Beragam jenis permainan yang bersifat pertaruhan atau perjudian tetap tumbuh dan berkembang dengan leluasa di kota ini.

Seperti terlihat, menjamurnya sarana perjudian dengan berbagai jenis mulai dari yang berskala kecil seperti arena goncang dadu sampai dengan judi elanggang permainan ketangkasan elektronik atau yang lebih popular disebut “Gelper” yang merata diseluruh Mall-mall atau Plaza diseantro penjuru kota ini.

Padahal secara jelas hukum yang berlaku sangat melarang tindak perjudian dalam bentuk dan cara apapun. Sebagaiman sesuai dengan Undang-undang Nomor 7 tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian dan Peraturan Pemerintah No.9/1981 tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian yang intinya melarang segala bentuk perjudian diseluruh wilayah Indonesia dengan alasan apapun tanpa terkecuali termasuk di Batam.

Sudah tentu jika mengamati undang-undang tersebut, maka permainan judi yang dibungkus dengan nama permainan Gelper, Judi bola dan lain-lain yang terdapat diseluruh kota Batam sangat jelas bertentangan dengan maksud Undang-undang tersebut.

Modus praktek judi disini menggunakan skenario alakadarnya saja, yang gampang ditebak karena sangat tidak masuk logika yang sesungguhnya.

Seperti contoh untuk menggelabui maka pada setiap arena permainan dipajangkan berbagai macam hadiah berupa boneka, peralatan elektronik, Voucher pulsa, rokok dan lain sebagainya,

Untuk dapat bermain maka pemain harus membeli koin dengan nominal harga yang telah ditetapkan, kemudian koin dimasukkan kedalam mesin, dan apabila si pemain menang maka dari mesin tersebut akan keluar kupon dalam jumlah ratusan sesuai dengan angka kemenangan yang diperoleh dari mesin tersebut.

Pemain yang menang bisa menukar kupon-kupon itu dengan sejumlah uang, tentu penukaran itu dilakukan secara tersembunyi, agar tidak dilihat secara kasat mata, namuni itu sangat mudah dibuktikan karena bukan rahasia umum lagi. Sebenarnya umum telah mengetahui sekenario tersebut bahkan tidak tertutup aparat keamanan pun mengetahui kondisi ini, namun entah kenapa eakan sulit untuk diberantas.

Dari sisi ekonomi bisnis, kegiatan usaha judi yang ada di Batam ini cukup menggiurkan karena dapat menghasilkan uang dalam jumlah yang besar dan dengan waktu yang singkat, Bandar-bandar judi disini berhasil memperkaya diri dari hasil usaha judi mereka yang menghasilkan omset mencapai puluhan juta rupiah perhari itu.

Dapat dibayangkan berapa uang masyarakat yang berhasil diraup oleh Bandar judi ini setiap harinya, dimana jika satu lokasi judi seperti “Gelper” yang berjumlah 50 lokasi bila dikalikan x Rp.40 juta uang yang berhasil mereka raup perhari tidak kurang dari Rp.2 Milyar per-hari. jika dikalikan sebulan berarti total keseluruhan dana masyarakat hasil judi yang dihimpun oleh pengusaha judi tersebut adalah sebesar Rp.60 Milyar Rupiah, jadi jika dikalikan pertahun penghasilan pengusaha Gelper tersebut adalah sebesar Rp.720 Milyar Rupiah, sungguh suatu jumlah yang sangat luar biasa dan hampir separoh besaran APBD kota Batam.

Dengan penghasilan yang besar diatas menyebabkan pengusaha perjudian semakin bernafsu dan berlomba-lomba menggembangkan sayap usahanya, seperti diketahui dilapangan banyak tempat “Gelper” yang ternyata pemiliknya hanya satu orang .

Seperti Judi bola yang terdapat di Formosa Hotel, belakang hotel pacific, hotel spink kampung saraya, Persona karaoke baloi, didepan Ramayana, dan pada kawasan lainnya termasuk juga yang terdapat di simpang lima dan area Harbourbay, disamping top 100 penuin, serta pada beberapa Mall lain diBatam, antara lain di seberang DC Mall, Mitra Mall Batu aji.yang disinyalir dimiliki oleh beberapa orang saja.

Terkait peran masyarakat terhadap pemberantasan perjudian di Batam bagikan sebuah fenomena yang penuh dengan dilema, keinginan dan keluhan masyarakat yang peduli terhadap kemadanian kota Batam dan berjuang demi terhapusnya permainan judi disini harus kandas oleh argument pemerintah Kota Batam sendiri, yang beralasan bahwa permainan “Gelper” adalah bukan judi dan merupakan pendapatan devisa bagi kota Batam sehingga dengan alasan tersebut pemerintah Kota Batam menerbitkan Legalitas kepada pengusaha Gelper dengan menerbitkan Izin Usaha Gelper.

Sementara dalam Perda Pariwisata Kota Batam dituliskan retribusi mesin Gelper per mesin per tahun adalah hanya sebesar Rp.50.000. artinya disini terjadi pengelembungan atas pungutan retribusi mesin gelper yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata.

Apakah Dinas Pariwisata memang benar telah menyetor pajak retribusi mesin gelper sebesar Rp.100.000 per mesin ke Kas daerah sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota Batam melalui Dinas Pendapatan Kota Batam?.

Sebab jika tidak berarti sudah terjadi penyimpangan atas selisih dana retribusi gelper Rp.50.000 lagi yang telah disetor yang dilakukan Dinas Pariwisata.

Kemana selisih dana setoran retribusi itu disetorkan oleh Dinas Pariwisata Kota Batam.

Kemudian yang menjadi pertanyaan lagi, apakah dengan memberikan kelebihan retribusi mesin Gelper dimaksudkan agar Dinas Pariwisata Kota Batam bungkam, tutup mata atau tidak perlu lagi melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan gelper-gelper yang ada.

Sehingga izin tersebut digunakan mereka sebagai tameng dalam melindungi usaha judi itu. Indikasi lain adanya kelebihan sejumlah Rp.50.000 dari retribusi atas mesin Gelper yang diberikan para pengusaha Gelper kepada oknum Dinas Pariwisata kemungkinan dimaksudkan merupakan suap atau uang tutup mata agar petugas tidak memperhatikan terhadap ketentuan Nomor 2 dalam Izin Tempat Usaha Parawisata (ITUP) yang tertulis Sistem permainan adalah masuk koin keluar tiket atau masuk kartu keluar tiket dan tiket ditukar dengan hadiah yang tidak berupa uang.

Dan Poin ke 4 disebutkan mencegah penggunaan tempat usaha untuk kegiatan perjudian.

Ketika dugaan Mark Up retribusi mesin Gelper itu dikonfirmasikan kepada Kepala Dinas Parawisata PEBRIALIN, berulang kali hendak ditemui yang bersangkutan selalu mengelak  alasan selalunya berdalih sedang ada rapat atau pertemuan.

Sesungguhnya keberadaan permainan judi di Batam sangat berakibat negatif yang harus dialami masyarakat, apalagi dalam kondisi kemerosotan ekonomi dengan banyaknya badan usaha yang tutup yang berakibat meningkatnya pengangguran disini.

Keluhan tersebut tergambar dari apa yang disampaikan oleh Wati salah seorang ibu rumah tangga yang bermukim di Batu Aji Batam, dimana menurut Ibu Wati hampir setiap hari suaminya keluar rumah dan bermain judi disalah satu tempat perjudian di Batam.

Awalnya Wati tidak mengetahui kenapa sejak di PHK dari tempat kerjanya diperusahaan galangan kapal di Tanjung Uncang, suaminya jadi rajin pergi ke Nagoya bahkan sering tidak pulang.

Curiga dengan keadaan tersebut suatu hari tanpa diketahui oleh sang suami diaam-diam dia mengikuti sang suami dan akhirnya diketahui kalau suaminya sedang terjangkit virus judi. Mereka sempat cekcok dan bertengkat disalah satu tempat perjudian tersebut.

“suami saya terjebak permainan judi, dari hari kehari banyak barang barang rumah yang terjual untuk menutupi hutang judi suaminya saya,” jelas wati (30/10).

Sebelumnya, dikonfirmasi beberapa kali Kapolresta Barelang Kombes.Pol. Hengki. SIK. MH. tidak berhasil ditemui dengan alasan sedang keluar. (fendi/kin )

Komentar

comments