Bantah Paksa Nikah Abg 14 Tahun, Atas Nama Perdes Akui Minta Dana 15 Juta

Bantah Paksa Nikah Abg 14 Tahun, Atas Nama Perdes Akui Minta Dana 15 Juta

Faktanews.co.id-(Banyuwangi)- Kades Sumberagung, Vivin Agustin, mengaku telah menerima uang Rp 15 juta dari Saian dan Komar (orang tua Putri dan Zaenus pasangan muda nikah siri).

Vivin menilai, pungutan uang tersebut dilakukan sesuai aturan Perdes setempat.

Putri dan Zaenus yang terikat nikah siri, dijerat dalam pasal larangan perselingkuhan.

Uang tersebut menurut Vivin disimpan dan tidak dimasukan APBDes.

Namun demikian menurut Vivin, uang tersebut akhirnya sudah dikembalikan kepada orang tua

“Tapi sudah kami kembalikan uangnya, kami serahkan di Kantor Kecamatan, disaksikan pak Camat dan Danramil,” ungkap Vivin.

Vivin juga membantah jika dirinya memaksa pasangan dibawah umur untuk menikah.

“Saya tidak memaksa mereka untuk menikah. namun, saya hanya sebagai penengah saja, karena masyarakat di Dusun Silirbaru ramai mempermasalahkan nikah siri kedua pasangan tersebut, sedang pihak perempuan sudah tidak mau sekolah lagi,” jelasnya saat ditemui di Kantornya.

Vivin menilai, keputusan untuk menikah sah kedua pasangan di bawah umur itu lebih baik daripada jika masih nikah sirih dan nantinya akan dipermainkan oleh laki laki.

Seperti diketahui, Saian, warga Dusun Silirbaru, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur, harus melihat anak semata wayangnya yang masih dibawah umur, Putri Safitri (14) nikah dengan Zaenus (21), asal Desa Sukorejo, Kecamatan Siliragung.

Akibatnya anaknya yang masih duduk dibangku SMP tidak bisa melanjutkan sekolah bahkan Saian juga jadi korban dugaan pungli mengatas namakan Perdes desa setempat.

Awal dikenakan denda 30 Juta namun akhirnya disepakati sebesar Rp 15 juta buntut kedua pasangan ini dinikahkan kedua orang tuanya dalam ikatan agama (siri).

Nikah siri ini dilakukan atas kesepaktan orang tua Putri Safitri dan orang tua Zaenus (Komar) untuk menghindari dosa (zina), juga bertujuan agar Putri Savitri bisa melanjutkan sekolah hingga SLTA.

Sayang niat baik kedua orang tua mereka justru tak sebanding lurus adanya tudingan kedua pasangan dinilai kumpul kebo.

Keduanya dipanggil oleh perangkat desa setempat.

Putri masih berstatus sebagai pelajar duduk di kelas 2 SMP terpojok, diintimidasi dan dipaksa untuk nikah secara resmi (pencatatan KUA).

Meski sempat dijelaskan tujuan, serta nikah siri atas sepengetahuan kedua orang tua. Tapi perangkat serta Kepala Desa (Kades) Sumberagung, Vivin Agustin, tetep ngotot.

Akibatnya Putri tidak bisa melanjutkan cita-cita melanjutkan sekolah.

“Kami berdua bersama ayah saya (Komar) dan ayah Putri (Saian) dikumpulkan oleh Kepala Desa di Kantor Desa, disana kami didenda, awalnya diminta Rp 30 juta, sebagai orang gak punya, kami menawar, dan akhirnya denda diturunkan menjadi Rp 15 juta, bu Kades minta dibayar saat itu juga atau diberi waktu maksimal dua hari, sampai bingung saya waktu itu akhirnya kami hutang,”jelas Saian.  Jumat (7/12/2018).

Disebutkan, dugaan pungli atas nama Perdes Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, terhadap Saian terjadi sekitar bulan Juni 2018. Uang diserahkan kepada Kades Vivin.

Kasie Perlindungan Perempuan dan Anak, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Banyuwangi, Belly Kusharwanti, menyayangkan kasus pemaksaan nikah terhadap Putri dan Zaenus.

Menurutnya, menikah dibawah umur adalah pelanggaran Undang-Undang (UU) RI Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 7 ayat 1.

Bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.

“Jadi ini sangat disayangkan, kami akan lakukan klarifikasi,” katanya.(ver/kin).

Komentar

comments

Tagged with