Akibat Surat Menkumham, Golkar Kubu Agung Laksono Terburu Berupaya Rebut Fraksi Di DPR

Gedung Fraksi Golkar. Dijaga Aparat

Gedung Fraksi Golkar. Dijaga Aparat

Faktanews.co.id -(Jakarta)- Konsekwensi Surat pengesahan Menkumham Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly yang mengakui Munas Golkar Ancol, benar-benar memporak porandakan Partai Golkar dalam jurang perseteruan secara nasional.

Menkumham yang mantan Anggota DPR dari Fraksi PDI, Yasonna Laoly telah mengelurakan Surat keputusan [SK] itu sudah ditandatangani sekitar pukul 10.00 WIB, Senin, 23 Maret 2015. Pemgakuan terhadap Golkar kubu Agung laksono.

Dua kubu berasal dari Partai Golkar Munas Bali dan Munas Ancol berebut fraksi di DPR, sama-sama merasa pantas memimpin Fraksi Partai Golkar di DPR.

Kubu Agung Laksono yang merasa mengantongi legalitas dari Menteri Hukum dan HAM. Sehingga akan tidak cocok jika fraksi di DPR tidak sesuai dengan kepengurusan DPP Partai Golkar yang resmi.

Seperti diketahui, Sebelumnya Fraksi Golkar kubu Agung berhasil masuk ke dalam ruang sekretaris fraksi yang berada di lantai 12 Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Jakarta. Wakil Ketua Golkar, Yorrys Raweyai mencongkel kunci pintu kaca yang sebelumnya dikunci oleh pengurus Fraksi Golkar yang dipimpin Ade Komaruddin.

Kubu Aburizal Bakrie, merasa dicurangi merasa memiliki banyak dukungan dari mayoritas anggota DPR yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP). Selain itu, dukungan juga akan muncul dari Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak saat hadir di Munas Bali, daripada di Munas Jakarta.

“Itu yang menyebabkan mereka merasa dicurangi,” kata Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ikrar Nusa Bhakti, Selasa (31/3).

Kubu Agung Laksono juga memiliki sejumlah alasan untuk menunjukkan mereka pantas memimpin fraksi.  Sesuai dengan hasil Mahkamah Partai, kubu Agung telah mendapat penilaian, yaitu transparan dan demokratis dalam menyelenggarakan munas.

Sementara itu, Anggota Fraksi Partai Golkar Siti Hediati Hariyadi atau yang lebih dikenal dengan panggilan Titiek Soeharto menilai langkah yang diambil oleh kubu Agung Laksono dalam pengambil alihan sekretariat fraksi, merupakan langkah yang terburu-buru.

“Sepertinya terlalu terburu-buru ya. Kantornya kan disini, enggak kemana-mana,” ujar Titiek di Gedung DPR, Jakarta, Senin (30/1). (rep/fn)

Komentar

comments

Tagged with